Home Arts Anak Berkebutuhan Khusus Raih Prestasi di CIDESCO World Congress 2019

Anak Berkebutuhan Khusus Raih Prestasi di CIDESCO World Congress 2019

Anak berkebutuhan khusus juara lomba makeup dan body art di Amerika Serikat
Silvia Anggraeni (membawa piala) bersama staff CIDESCO dan staff Direktorat PKLK | Foto: Highlight.ID

Highlight.ID – Keterbatasan tidak menjadi halangan untuk berkarya dan meraih prestasi. Silvia Anggraeni mampu membuktikan bahwa meski mempunyai kekurangan, ia dapat meraih penghargaan kategori Makeup and Body Art Painting di Chicago, Amerika Serikat. Kompetisi tersebut merupakan bagian dari acara CIDESCO World Congress 2019 pada tanggal 23 September 2019. Pada acara itu, Silvia menampilkan makeup dan body art painting dengan tema film Amerika “The Lion King”.

dr. Kusumadewi Sutanto selaku Vice President CIDESCO Section Indonesia mengatakan bahwa karya Silvia Anggraeni menarik perhatian peserta CIDESCO World Conggress. “Kami sendiri di luar ekspektasi kami, sambutan peserta dari luar negeri demikian antusias. Nama Indonesia menonjol dan disuarakan di seluruh dunia yang hadir di sana. Dan mereka senang sekali,” papar dr. Kusumadewi.

Baca juga:

Menurut dr. Kusumadewi, hal yang membuat Silvia mendapat sorotan karena teknik dan hasil kerjanya yang bagus. Silvia selama 5 jam mampu melukis objek-objek yang ada di film The Lion King dengan detail.

Lebih lanjut dr. Kusumadewi menjelaskan bahwa pihak CIDESCO sudah sejak lama menjalin kerja sama dengan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK). Kerja sama tersebut dalam bentuk pelatihan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) yang diadakan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Sedangkan dr. MMV. Lianywati Batihalim menjelaskan bahwa keikutsertaan Silvia Anggraeni di ajang CIDESCO World Congress sebagai wakil CIDESO Section Indonesia. “Waktu itu ada lomba anak-anak berkebutuhan khusus untuk makeup, kecantikan. Dari situ, (Silvia) dikirim ke Chicago. Di Chicago, lomba tidak dijalankan tapi performance tunggal,” jelasnya.

“CIDESCO Section Indonesia sangat menghargai (prestasi Silvia) dan ingin memajukan anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa mandiri,” ujar dr. Lianywati.

Sanusi selaku Direktur Pembinaan PKLK Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengatakan, “Kami, pertama, sangat bergembira sekali anak-anak yang berkebutuhan khusus mengikuti event internasional. Event-event yang (levelnya) lebih tinggi ini akan kita perluas lagi. Karena anak-anak berkebutuhan khusus, (tantangannya) bagaimana (bisa) mandiri dan bisa eksis di tengah masyarakat.”

Agar dapat eksis di tengah masyarakat, maka anak berkebutuhan khusus harus dibekali dengan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Silvia Anggraeni adalah salah satu contoh anak berkebutuhan khusus yang mempunyai keterampilan terutama di bidang kecantikan. Dengan keterampilan yang dimilikinya, Silvia dapat merengkuh prestasi di tingkat internasional.

Tak hanya berhenti di situ, prestasi tersebut diharapkan bisa berguna untuk menunjang kesejahteraan. Demi menunjang prestasi anak berkebutuhan khusus, maka Sanusi menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat. “Kami ingin anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya jadi pekerja tapi jadi pemiliknya (pengusaha),” kata Sanusi.

Menurut Sanusi, pihak Direktorat Pembinaan PKLK telah berupaya memberikan akses dengan menyediakan ruang belajar dan keterampilan bagi anak berkebutuhan khusus. “Ruang keterampilan itu harus dilengkapi juga di samping strukturnya (pendidikan) yang luar biasa tapi harus didukung juga oleh peralatan dan sebagainya,” imbuhnya.

Meski demikian, Sanusi melihat masih adanya kendala di mana pengembangan pendidikan anak berkebutuhan khusus belum dikelola secara profesional. Misalnya guru-guru keterampilan yang mengajar di sekolah tidak linier dengan latar belakang pendidikannya.

Sanusi mengatakan, “Kami akan mencoba sedikit demi sedikit. Kami bekerja sama dengan asosiasi, sekolah menengah kejuruan (SMK). Kami membuka diri bilamana ada event-event atau lomba-lomba baik nasional, regional atau internasional.” Menurutnya, Kerja sama yang dimaksud Sanusi bisa berupa bantuan alat, ruangan, atau materi-materi yang masuk dalam kurikulum sekolah.

Pada tahun 2020, CIDESCO World Conggress rencananya akan dilangsungkan di Indonesia. Sanusi mengatakan bahwa pihaknya siap berpartisipasi dalam ajang internasional tersebut. Dalam waktu dekat di bulan Oktober 2019, Direktorat Pembinaan PKLK akan menyelenggarakan Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) di Bandung, Jawa Barat untuk ABK. “Yang juara 1, 2, 3, nanti akan kami persiapkan untuk mengikuti CIDESCO (World Congress) di tahun 2020. Ini kan harus dipersiapkan dengan matang,” ujarnya.