Home Arts Vannie Astecat, Fashion Stylist yang Terbiasa Mandiri Sejak Kecil

Vannie Astecat, Fashion Stylist yang Terbiasa Mandiri Sejak Kecil

Vannie Astecat merupakan fashion stylist profesional yang menjadi langganan selebriti terkenal
Vannie Astecat | Foto: Dok. Pribadi

Highlight.ID – Memiliki berbagai macam kegiatan sejak SMP membuat Vannie Astecat menjadi sosok perempuan yang mandiri. Sejak usia remaja hingga kuliah, Vannie pernah menekuni beberapa profesi sebagai dancer, foto model, penyiar radio hingga pebisnis sepatu custom.

“Dulu waktu aku masih kecil umur 4 tahun, kata mamaku, aku cita-citanya ingin jadi foto model,” kata Vannie sambil tertawa. “Dan itu terealisasikan di saat aku remaja. Dulu memang ikutan modeling juga,” lanjutnya. Beberapa kali, wajahnya menghiasi sampul majalah remaja.




“Pada dasarnya, aku nggak bisa diem, dari dulu. Terus punya aktivitas pas SMP aku lebih banyak nari di sana sini. SMP kelas 3 (sampai) SMA itu aku banyak (aktivitas) modeling. Siaran di radio juga. Diri sendiri sih yang ngedorong kayak harus punya aktivitas dan pengin beli apa yang aku mau dari hasil jerih payah sendiri,” ungkap Vannie kepada Highlight.ID di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menentukan Pilihan

“Astecat” merupakan nama singkatan yang diambil dari nama lengkapnya, Agnes Stephanie Cathykana dan pernah dipakai sebagai sebuah merek sepatu miliknya. Kemudian, seiring berjalannya waktu, Vannie dihadapkan pada dua pilihan, yakni antara berbisnis sepatu atau menjadi fashion stylist. “Karena aku tipikal orang yang kalo kata mamaku dari kecil itu memang selalu punya banyak kegiatan, tapi nggak ada satu yang menonjol karena semua dilakuin bersama-sama,” ujarnya.

Baca juga:

Sejak kecil, Vannie sering mendandanin orang maupun diri sendiri serta membuat padu padan berbagai jenis produk fashion. Saat SMP, Vannie sudah mengetahui jurusan atau bidang yang ingin ia tekuni kelak di kemudian hari. Baginya dunia fashion itu luas dan Vannie tidak tertarik untuk menjadi seorang fashion designer. “Saat itu aku ngerasa kalo gua nggak bisa nggambar bagus. Belajar gambar itu ada di kurikulumnya cuman kayaknya aku nggak (tertarik) di situ. Akhirnya memutuskan (kuliah di) Fashion Business di LaSalle College,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 27 Januari 1987 ini.

Saat kuliah di jurusan Fashion Business di LaSalle College Jakarta, Vannie mengaku tidak banyak belajar tentang styling. Namun pada akhirnya, Vannie lebih memilih fashion stylist sebagai profesi utamanya sejak tahun 2006. Vannie menerangkan, “(Ketika kuliah) Lebih ke bisnis di dunia fashion, kayak kita mau bikin brand, berbisnis atau kerja di sebuah (perusahaan) retail. Lebih ke situ sebenarnya. Tapi aku akhirnya memilih profesi stylist.”

Awal Karier

Ketika masih kuliah, Vannie mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam pembuatan iklan televisi. Ternyata, sang Pengarah Film menyukai hasil styling Vannie dan menawarinya untuk terlibat lagi dalam proyek selanjutnya berupa video klip. “Waktu itu yang di-handle, artis-artisnya yang lagi naik daun. Berbekal tiga project yang saat itu aku handle itu lumayan membawa peluang yang besar ke depannya,” imbuh dia.

Vannie Astecat merupakan fashion stylist profesional yang menjadi langganan selebriti terkenal
Vannie Astecat bersama BCL | Foto: Dok. Pribadi

Pada saat yang bersamaan, Vannie menerima pemesanan sepatu custom dengan label “Astecat”. Beberapa klien yang memesan sepatu merupakan artis-artis terkenal Ibu Kota yang kemudian mempercayakan soal styling kepada Vannie hingga saat ini.¬†Meskipun demikian, menurut Vannie ketika itu belum begitu banyak orang yang mengerti tugas dan pekerjaan seorang celebrity fashion stylist. Sedangkan fashion stylist untuk keperluan majalah, film atau iklan sudah banyak jumlahnya.

Sekitar tahun 2007, Vannie mulai fokus menjadi fashion stylist untuk para selebriti dengan Nindy Ayunda sebagai klien pertamanya. Selain itu, artis-artis yang menjadi langganan Vannie di antaranya Rossa, Raisa, Isyana Sarasvati, Bunga Citra Lestari (BCL), Afghan, Marcell Timothy, Luna Maya, dan Laura Basuki. Menurut Vannie, ia mempunyai lingkaran pertemanan yang berhubungan dengan para selebriti. Ditambah lagi dengan portofolio yang dimilikinya, Vannie mulai mendapatkan kepercayaan untuk menggarap styling mereka.

Membentuk Image

Tak hanya sebatas mencarikan baju atau fashion item lainnya, fashion stylist juga berperan membentuk image seseorang. “Tanggung jawabku itu membentuk penampilan seseorang yang sesuai dengan market. Mau dianggap manis, seksi, elegan, itu tugasnya fashion stylist. Dan fashion stylist bukan hanya nyariin baju tapi kita mengonsepkan the whole image-nya si selebriti atau personal ini,” katanya.

Vannie Astecat merupakan fashion stylist profesional yang menjadi langganan selebriti terkenal
Vannie Astecat sedang melakukan styling| Foto: Dok. Pribadi

Demi kelancaran pekerjaan, fashion stylist harus memiliki hubungan baik dengan beberapa pihak, salah satunya desainer fesyen. Seringkali, fashion stylist membutuhkan bantuan desainer dengan meminjam koleksinya. “Tanggung jawabnya juga sangat berat karena banyak sekali barang-barang desainer yang tidak lah murah. Kalo rusak segala macam tanggung jawabnya ke stylist. Kalo kita nggak teliti, ini siapa yang ngerusakin. Ujung-ujungnya yang ngganti stylist juga,” jelas dia sambil tertawa.

Sebagai fashion stylist, Vannie harus memikirkan bagaimana konsep styling yang hendak diterapkan ke klien. “Abis itu ajak diskusi si kliennya, udah agree dengan konsepnya, (lalu) nyari siapa yang bisa men-support, desainernya siapa. Aku kontak desainernya satu-satu, akhirnya mendapatkan bajunya, baru fitting. (Pada) Hari H dengan konsep yang sebelumnya, abis itu selesai acara, belum selesai, di-laundry (pakaiannya) dulu. Masukin laundry, baru dibalikin (ke desainer), kerjanya selesai.”

“Ada juga yang membutuhkan budgeting. Ternyata bajunya bukan pinjam dari desainer tapi belanja. Nah, itu kan ada pembukuannya lagi. Jadi nggak cuman sekadar kerja (di) hari H abis itu selesai, dibayar. Nggak. Prosesnya lumayan panjang juga,” ungkap dia. Selain didukung desainer fesyen, fashion stylist dalam menjalankan pekerjaannya juga mendapatkan bantuan dari makeup artist, hairstylist, fotografer, desainer aksesoris, desainer sepatu hingga nail technician.

Teliti

Risiko yang sering dihadapi fashion stylist yakni adanya kerusakan pada koleksi desainer yang dipakai untuk styling. Untuk itu, Vannie berupaya menghindari risiko tersebut dengan melakukan pengecekan secara teliti mulai dari pengambilan hingga pengembalian barang. Di studio milik desainer, Vannie bersama dengan desainer atau pegawainya melakukan pengecekan terlebih dulu. Apabila barangnya memang sudah ada cacat maka mereka membuat sebuah catatan.

Baca juga:

Ketika hendak dipakai oleh klien, Vannie bersama timnya melakukan lagi pengecekan barang untuk melihat kondisinya. “Nanti kalo udah dipake kita cek lagi. Jadi salahnya di siapa, nih kalo tiba-tiba, tadinya ada robek terus robeknya makin gede, kita tahu salahnya siapa. Nanti begitu udah selesai dipakai, kita cek lagi. Nanti masuk ke laundry dicek lagi. Mereka ngasih notes, apa kekurangannya,” terangnya.

Satu hal yang tak diinginkan Vannie yakni apabila terjadi kerusakan dan ia harus menggantinya. “Bebannya nyesek juga harus aku yang nanggung, ternyata sebenarnya yang salah bukan aku. Tapi aku harus ngganti semua. Deg-degan ya. Kalo harganya Rp50 ribu, mungkin kayak, oh ya udah. Kalo harganya puluhan sampai ratusan (juta rupiah), pusing ya,” kata dia.

Terus Belajar

Lebih lanjut Vannie menceritakan, “Selain styling buat selebriti aku juga ngerjain (untuk) film, iklan juga. Film itu salah satu media, pekerjaan yang sangat-sangat bikin seorang fashion stylist jadi belajar lagi. Karena selain medan tempat syutingnya juga belum tahu. Misalnya film biopik, pasti mengusung tahun tertentu. Nah, untuk mencari tahu baju yang dipakai untuk tahun-tahun tertentu kita harus belajar sejarah, harus riset dulu. Kalo bisa ketemu orang-orang di angkatan itu. Dan itu pasti punya pengetahuan baru lagi.”

Vannie dalam menjalankan profesinya dibantu oleh 11 orang yang tergabung dalam timnya. Banyak anggota timnya yang masih tergolong muda dengan usia sekitar 20-an tahun. Vannie mengaku belajar juga dari mereka tentang apa yang disukai atau tidak disukai oleh anak-anak muda. “Aku selalu mempelajari kekurangan dan kelebihan anak-anak baru. Beberapa tim aku ada juga yang benar-benar masih muda sekali. Bikin akunya bisa beradaptasi dengan anak-anak seumur itu.”