Home Arts Pengalaman Menjadi Model Profesional Beserta Suka dan Dukanya

Pengalaman Menjadi Model Profesional Beserta Suka dan Dukanya

Mengenal profesi dan dunia modeling beserta suka dan dukanya
Model Persona Management | Foto: Instagram/@persona_mgt

Highlight.ID – Bergaya di depan kamera sambil memeragakan pose dengan gestur tubuh tertentu atau berjalan di catwalk mengenakan rancangan fashion designer. Itulah sederet pekerjaan yang dilakoni seorang model profesional. Mungkin terdengar sederhana tapi ternyata tak segampang yang dibayangkan.

Menjadi seorang model profesional memerlukan proses yang cukup panjang, mulai dari mengasah kemampuan teknis hingga kekuatan psikologis. Dan itu tak dapat direngkuh dalam sekejap mata. Untuk mengenal lebih jauh tentang profesi model, Highlight.ID mewawancarai 2 orang model yang merupakan bagian dari Persona Management. Kedua model tersebut bernama Astrid Chu dan Pika Kumara yang menceritakan pengalamannya menjadi model.




Astrid Susanto yang juga dikenal dengan nama Astrid Chu mengaku suka bergaya di depan kamera sejak masih berusia belia. Teman-teman sekolahnya suka menjadikan Astrid sebagai model. Dari situ, ia pun tertarik dan mulai berpikir untuk menjadi model ketika beranjak dewasa.

“Aku dari kecil suka difoto. Om aku fotografer, suka foto-fotoin aku. Terus sejak SMA, teman-teman suka pake aku untuk jadi model, iseng-iseng foto. Aku sempat kuliah juga di Fashion Design dan di situ suka ketemu dosen-dosen yang minta tolong aku jadi modelnya,” ujar Astrid kepada Highlight.ID.

Baca Juga: Persona Management, Komunitas Kreatif Terdiri dari Model Hingga Fotografer





Awal mula Astrid menjadi model bermula ketika Andhika Dharmapermana (Dhika), Pemilik Persona Management, menemukan foto-fotonya di media sosial Instagram. Andhika melihat Astrid memiliki potensi untuk menjadi model profesional. Kemudian, Astrid diajak Andhika untuk bergabung di Persona Management dan menjadi salah satu talentanya.

Menurut Astrid, ia memulai kariernya sebagai model profesional sejak tahun 2018. Bagi Astrid, model merupakan sebuah profesi yang menyenangkan karena bisa bertemu dengan banyak orang. “Seru, sih karena pekerjaannya bukan kerja (di) kantor. Ketemu orang yang berbeda-beda, job-nya, fotografer, makeup artist, lokasinya juga beda-beda. Tiap hari pasti ada sesuatu yang baru,” kata cewek lulusan LaSalle College Jakarta ini.

Tak hanya hal-hal yang menyenangkan, Astrid juga mengalami hal yang kurang mengenakkan. Misalnya ketika ia harus foto-foto yang lokasinya berada di tengah hutan yang banyak nyamuknya. Kadangkala, ia harus berpose yang tidak biasa sehingga terlihat seperti menyiksa tubuh. “Tapi jadinya menantang, sih. Kalo dukanya, fotonya suka dipake, awal kesepakatannya di-upload di social media tapi dipake di media yang lain. Nggak fair aja,” tambahnya.

Baca Juga: Kehidupan Model Penuh dengan Glamoritas, Benarkah Demikian?

Mengenal profesi dan dunia modeling beserta suka dan dukanya
Astrid Chu | Foto: Instagram/@persona_mgt

Menekuni profesi model, Astrid mengaku tidak menempuh kursus atau pendidikan modeling sebelumnya. Ia mendapatkan materi pelatihan modeling ketika bergabung di Persona Management. Astrid menerangkan, “Pas aku datang ke Persona, aku baru diajarin di sini. Kak Dhika sendiri yang ngajarin aku cara (berjalan di) runway. Nggak cuman sekali juga, berkali-kali diajarin sampe jalannya bagus.”

Mendapatkan berbagai macam pelatihan, Astrid merasa telah memiliki keterampilan yang dibutuhkan sebagai seorang model. Cara Astrid berjalan di runway maupun cara berpose di depan kamera lebih bagus dari sebelumnya. Astrid berujar, “Awalnya aku ragu full time jadi model, tapi setelah masuk industri ini, aku suka banget. Dan aku pengin terus kembangin seberapa jauh aku bisa sampai di industri ini.”

Semakin majunya media sosial membuat siapa saja bisa menjadi model tanpa harus bergabung dengan komunitas atau modeling agency manapun. Melihat hal ini, Astrid mengaku tidak merasa tersaingi. “Ya udah mereka terkenal. Mungkin model-model Persona tidak seterkenal influencers. Tapi apa gunanya sih jadi terkenal yang penting kan kita punya nilai dari masing-masing personal,” ujar dia.



Baca Juga: Kelly Tandiono, Model Internasional yang Ingin Main Film di Luar Negeri

Sebagai seorang lulusan jurusan Fashion Design, Astrid mengaku ingin menjadi fashion designer di masa depan. Namun saat ini, Astrid lebih memilih untuk menjadi model karena ingin mencari pengalaman dan mencoba hal-hal baru. Selama menjadi model, Astrid lebih banyak mendapatkan job berupa photoshoot untuk promosi merek. “Tapi tetap aku pengin jadi fashion designer,” kata perempuan yang hobi main piano ini.

Sementara Pika Kumara awalnya tidak mau menjadi model ketika banyak orang yang menyuruhnya menjadi model semasa ia masih SMP. “Awalnya dari SMP sih, udah banyak banget yang nyuruh ikutan modeling. Cuman aku nggak mau karena aku suka kuliner. Dan aku tahunya dulu kalo modeling itu nggak boleh makan, harus diet. Jadi aku nggak mau. Terus jaman kuliah iseng nemenin temen untuk sekolah modeling. Pas udah ‘kecemplung’ di situ, kok kayaknya seru,” katanya.

Setelah bergabung dengan Persona Management, Pika mendapatkan berbagai macam pekerjaan modeling mulai dari photoshoot hingga fashion show. Pika berusaha menikmati setiap proses dalam pekerjaannya. “Aku dalam menjalankan setiap pekerjaan itu suka karena prosesnya kita itu kayak membuat karya,” ujar lulusan Ilmu Komputer, Binus University ini.

Mengenal profesi dan dunia modeling beserta suka dan dukanya
Pika Kumara | Foto: Instagram/@persona_mgt

“Sukanya dalam modeling, kalo dapat pekerjaan sekalian jalan-jalan ke luar kota itu seru banget. Duka kecil-kecilan, kalo lagi liburan tiba-tiba ada job mendadak harus pulang duluan. Tapi ngerjainnya senang-senang aja,” tambahnya.

Pika hingga saat ini masih fokus menjalankan profesinya sebagai model sembari juga menjalankan bisnis thrift shop kecil-kecilan bersama temannya lewat Instagram. “Masih pengin menggeluti dunia modeling karena masih banyak yang perlu di-explore. Jadi modeling bukan sekadar pekerjaan yang kayak kita foto doang. Bergaya ini, bergaya itu. Tapi di balik itu banyak banget yang kita explore,” kata wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1992 ini.

Bagi Pika, dunia modelling tidak seglamor yang dibayangkan orang. Pika menuturkan, “Aku juga bingung kok orang menganggap modeling dunianya glamor. Nggak sih, sebenarnya. Mungkin ada beberapa yang seperti itu tapi nggak semuanya. Itu tergantung dari orangnya masing-masing, menurut aku. Dan tergantung juga kitanya mau ngebawa ke situ ato nggak. Kalo aku pribadi ya seperti ini. Nggak malu menyebutkan head to toe semua (pakai produk) thrift shop.”

“Di backstage, model ngemper, benar-benar tidur di lantai,” kata Pika. Belum lagi ketika photoshoot yang memakan waktu selama berjam-jam hingga seharian, model tidak mendapatkan pelayanan yang istimewa. Bahkan, Pika tidak merasa malu atau gengsi untuk nongkrong di warung kopi (warkop) pinggir jalan.