Home Tips Education CISC Selenggarakan Indonesian 12th Annual Cancer Survivors Gathering

CISC Selenggarakan Indonesian 12th Annual Cancer Survivors Gathering

CISC menggelar acara Indonesian 12th Annual Cancer Survivors Gathering dengan tema “NO MAGER NO BAPER“
Ilustrasi | Foto: voixdespatients.fr

Highlight.ID – Seluruh negara termasuk Indonesia, sedang menghadapi masa sulit di tengah pandemi COVID19. Di samping itu, tren penyakit tidak menular termasuk kanker terus meningkat, seiring dengan budaya gaya hidup masyarakat yang kurang sehat seperti kurang beraktivitas fisik, merokok, diet tidak seimbang dan seterusnya.

Mengutip GLOBOCAN angka kejadian kanker di Indonesia terus meningkat, baik dari angka kasus baru maupun kematian akibat kanker. Jika pada 2018 angka kasus baru tercatat 348.809, maka di tahun 2020 menjadi 396.914. Angka kematian akibat kanker pada 2018 sebesar 207.210 juga meningkat menjadi 234.511 kasus. Baik angka kasus baru maupun angka kematian akibat kanker meningkat sekitar 8,8% hanya dalam waktu 2 (dua) tahun.

Dampak kanker bukan hanya terhadap pasien, tetapi juga kepada keluarga, seperti anak-anak kehilangan kesempatan tumbuh didampingi ibu dan atau terkendala mendapat ASI dan pengasuhan optimal dan berkualitas, serta kesulitan finansial akibat pencari nafkah (ayah atau ibu) sakit atau meninggal. Secara lebih luas penyakit kanker berdampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dan negara.

Baca Juga:
Lawan Kebutaan, 10 Ribu Pasien Diabetes di Indonesia Akan Diperiksa

CISC menggelar acara Indonesian 12th Annual Cancer Survivors Gathering dengan tema “NO MAGER NO BAPER“
Indonesian 12th Annual Cancer Survivors Gathering | Foto: Tangkapan layar

Kanker memang sudah menjadi masalah nasional. Perlu upaya bersama untuk membantu pasien kanker agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya. Selain itu, perlu upaya bersama pula untuk membuka kesadaran masyarakat agar angka kasus dan kematian akibat kanker dapat menurun. Untuk itu, kehadiran organisasi pasien kanker, seperti Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) dibutuhkan.

Menurut, psikolog Dra. Yohana Domikus, M.Si., baik pasien kanker maupun organisasi pasien kanker harus ‘No Mager, No Baper’. Istilah ‘mager’ adalah singkatan dari ‘malas gerak’, sedangkan ‘baper’ singkatan dari ‘bawa perasaan’. ‘No Mager’ bagi seorang pasien berarti dia harus selalu bergerak, berupaya melakukan pengobatan untuk kankernya. ‘No Baper’ berarti pasien mau menyingkirkan perasaan negatif yang seringkali melanda saat melakukan terapi, seperti rasa sedih, pesimistik, sensitif, letih, atau jenuh. Perasaan seperti ini jika terlalu diikuti akan menghalangi pasien meraih kesembuhan.

Yohana menambahkan, mental ‘No Mager, No Baper’ juga penting bagi sebuah organisasi pasien kanker. Dengan mental tersebut akan membuat sebuah organisasi kanker terus berupaya memberikan inspirasi melalui berbagai kegiatan kreatif untuk membagikan informasi penting mengenai pengobatan kanker, sekaligus melakukan usaha nyata membantu pasien kanker dan membuka kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap kanker serta hidup sehat.

Tahun ini, untuk merayakan CISC selama 18 tahun hadir menjalankan misi sebagai organisasi pasien kanker yang menjadi “Rumah Kedua” para pasien/penyintas kanker dan mereka yang peduli terhadap kanker, maka diadakan acara Indonesian 12th Annual Cancer Survivors Gathering dengan tema “NO MAGER NO BAPER“. Acara ini menghadirkan talkshow virtual dengan topik “Blak Blakkan Curhat Yuk”, melalui aplikasi zoom dan streaming YouTube, pada Sabtu, 3 April 2021.

Baca Juga:
Seluk Beluk Vaksinasi Covid-19 Pada Penyintas Kanker Usus Besar

Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum CISC menjelaskan bahwa acara/diskusi ini merupakan acara tahunan pertemuan para penyintas kanker yang rutin dilakukan sejak CISC berusia 5 tahun. Saat ini, jumlah anggota CISC semakin banyak. Pada awalnya di tahun 2003, anggota CISC hanya 11 orang, saat ini sudah sekitar 2.300 orang. “Pertemuan ini untuk meningkatkan silaturahmi, sekaligus untuk mendapatkan masukan dari para narasumber dan peserta, baik berupa saran, tantangan dan harapan organisasi pasien, agar ke depannya CISC bisa berperan lebih baik menuju Indonesia lebih sehat,” tuturnya

Dr. dr. Samuel J Haryono, Sp.B(K)Onk., dokter spesialis bedah onkologi senior di Indonesia yang merintis dan membina perkembangan penatalaksanaan kanker model interdisiplin melalui pendekatan multidisiplin di pusat kanker nasional dan swasta, ikut memprakarsai berdirinya CISC. Dr Samuel mendukung keberadaan komunitas penyintas multikanker ini berperan aktif bagi pasien melalui advokasi dan dukungan nyata untuk mengupayakan kebijakan publik bagi kualitas hidup pasien, serta terlibat dalam edukasi dan penelitian, baik pencegahan maupun diseminasi informasi perkembangan baru pengobatan kanker. “Saya yakin penelitian adalah tulang punggung bagi perkembangan onkologi di masa kini dan akan datang,” katanya.

Prof. Dr. dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, Sp.Rad(K),Onk.Rad, menekankan pentingnya edukasi terkait pencegahan dan penanganan kanker untuk masyarakat khususnya pasien. “Sebenarnya kanker bisa dicegah. Kanker memang diketahui sebagai penyakit multifaktorial, tetapi salah satu faktor risiko yang berperan penting adalah pola hidup sehat. Untuk ini, pasien maupun organisasi pasien dapat menjadi agen perubahan,” ujarnya.

Prof Soehartati menambahkan, penanganan kanker, apabila dilakukan pada stadium dini dengan teknologi pengobatan saat ini, dapat mencapai angka keberhasilan yang tinggi sehingga penderita memiliki angka ketahanan hidup di atas 5 tahun dan kekambuhan yang rendah.

Baca Juga:
Pasien Kanker Payudara HER2 Positif Stadium Dini Belum Dapatkan Pengobatan Komprehensif

Selain itu, Prof. Soehartati juga menekankan pentingnya peran LSM ataupun organisasi pendukung/survivors kanker dalam memprioritaskan penanggulangan kanker di suatu negara. LSM dapat menjadi motor dari perubahan bila dikelola secara strategis dan berdaya, terutama dalam hal advokasi berbasis data (evidence) kepada para pemangku kegiatan yang masih perlu digiatkan lagi di Indonesia.

Menurut Dr. Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD KHOM, FINASIM, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bergabung dengan kelompok pendukung dapat meningkatkan kualitas hidup dan mungkin bisa meningkatkan angka survival. “Banyak pasien kanker menerima dukungan dari teman dan keluarga, namun alasan nomor satu mereka bergabung dengan kelompok pendukung pasien/organisasi pasien adalah keinginan untuk bisa bersama orang lain yang juga mengalami kanker,“ ujarnya.

Dr Ronald mengharapkan organisasi pasien dapat turut membantu pasien kanker menerima informasi umum yang memadai tentang penyakit mereka, kemungkinan intervensi terapi yang ada, harapan dan manfaat serta risiko yang diketahui dari pilihan pengobatan tertentu. “Sesuai ketentuan dari berbagai organisasi kanker utama dunia di Eropa dan Amerika (misalnya, American Society of Clinical Oncology, European Society for Medical Oncology, American Society for Radiation Oncology, Society of Surgical Oncology), perawatan kanker yang optimal sejak beberapa puluh tahun terakhir sudah harus dilaksanakan oleh tim yang mencakup keahlian multidisiplin, yang biasanya terdiri dari dokter ahli onkologi medik, ahli onkologi bedah, ahli onkologi radiasi, ahli radiologi, ahli patologi, ahli perawatan paliatif, serta perawat onkologi dan pekerja sosial. Pasien juga perlu dibantu untuk memiliki akses ke konsultasi kebutuhan psikososial, nutrisi, dan lainnya,” ujarnya.

Dalam diskusi ini, Dr. Samuel, dan Prof Soehartati berbagi inspirasi dan saran kostruktif mengenai memilih organisasi/komunitas pasien kanker yang bisa membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dalam menghadapi penyakit kankernya, sekaligus membantu pemerintah untuk membuka kesadaran masyarakat terhadap penyakit kanker. Sedangkan dr. Ronald A. Hukom, MHSc, Sp.PD KHOM, FINASIM menekankan mengenai tantangan organisasi pasien kanker dan harapan dokter.

Melengkapi diskusi, hadir Ir. Rusliansyah M.Sc., Ketua Cabang CISC Kalimantan Selatan yang mengungkapkan berbagai permasalahan pasien kanker di daerah. “Pasien kanker di daerah masih sangat memerlukan dukungan psikososial dan informasi tentang kanker secara tepat dan benar, sehingga organisasi pasien seperti CISC sangat tepat hadir di daerah-daerah,” katanya.

Pertemuan ini dibuka oleh dr. Aldrin Neilwan P., Sp.Ak, MARS, M.Biomed, M.Kes, mewakili Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dalam sambutannya menjelaskan tentang pentingnya peran serta semua pemangku kepentingan terkait kanker dalam pencegahan dan pengendalian kanker secara bersama-sama dan berkesinambungan untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker.