Home Business Menemukan Daya Saing Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Menemukan Daya Saing Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Indonesia Ecomonic Outlook 2020 (IEO'20) diselenggarakan oleh FEB UI
Iskandar Simorangkir menyampaikan keynote speech di Indonesia Economic Outlook 2020 (IEO'20) | Foto: Highlight.ID

Highlight.ID –¬†Saat ini, negara-negara di dunia sedang mengalami perlambatan ekonomi akibat adanya perang dagang, resesi, dan isu-isu global lainnya. Untuk membahas peluang dan tantangan Indonesia di tengah ketidakpastian global, Kajian Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (Kanopi FEB UI) menyelenggarakan Indonesia Economic Outlook 2020 (IEO’20).

Tujuan penyelenggaraan IEO’20 yakni untuk mengulas kilas balik perekonomian Indonesia pada tahun berjalan (2019) dan memberikan proyeksi kinerja perekonomian pada tahun mendatang (2020) dari sisi makroekonomi. Dengan tema “Reinforcing Indonesia’s Competitiveness in The Face of Global Uncertainty”, IEO’20 terdiri dari tiga subtema.



Ketiga subtema IEO’20 yakni: Monetary (Promoting Financial Deepening to Bolster Monetary Resilience); Fiscal (Ensuring Fiscal Sustainability to Enhance Indonesia’s Economic Productivity); dan Real (Infrastructure Optimization to Improve Indonesia’s Economic Excellence).

IEO’20 Forum menjadi acara pembuka rangkaian acara Indonesia Economic Outlook 2020 yang dilaksanakan di Aula Badan Kebijakan Fiskal, Gedung R.M. Notohamiprodjo, Komplek Kementerian Keuangan Republik Indonesia tanggal 23 September 2019. Para pengambil kebijakan dari pihak pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan pengamat ekonomi ikut menghadiri forum tersebut.

Baca juga:

Forum ini sekaligus menjadi wadah untuk mencari solusi dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia. Lewat IEO’20, mahasiswa FEB UI telah menyusun kajian-kajian ekonomi yang disampaikan kepada pemerintah sebagai masukan dalam penetapan kebijakan-kebijakan di masa datang.

Ekonomi Global Melambat

Iskandar Simorangkir selaku Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam keynote speech-nya mengatakan bahwa penyebab utama ketidakpastian ekonomi global yakni perang dagang dan penurunan harga komoditas. Contoh yang paling nyata yakni perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump dengan China. Hal itu diikuti pula dengan perang mata uang Yuan.

Beberapa negara Eropa seperti Jerman, Italia, dan Inggris juga mengalami resesi yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melambat. Demikian juga dengan ekspor oleh negara-negara juga mengalami penurunan. “Ini salah satu indikator menunjukkan bahwa gejala resesi di depan mata jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat,” ujar Iskandar.

Oleh karena itu, Iskandar menekankan gejala dan indikator tersebut perlu mendapatkan perhatian yang cermat dan perlakuan yang hati-hati. “Makanya enggak heran, semua negara sudah melakukan antisipasi khususnya bank sentral dengan melonggarkan kebijakan moneternya,” imbuhnya.

Menurutnya, tindakan dengan melonggarkan kebijakan moneter sudah tepat. Iskandar mengingatkan bahwa apabila kebijakan yang diambil pemerintah tidak tepat maka dikhawatirkan Indonesia akan jatuh ke dalam resesi.

“Kita dari sisi eksternal cukup tinggi ketergantungan terhadap dana-dana asing jangka pendek untuk sumber pendanaan pembangunan. Itu mengakibatkan kita rentan sekali terhadap capital reversal,” jelas Iskandar.

Transformasi Ekonomi

Ia juga menekankan pentingnya pembangunan infrasruktur agar antardaerah di Indonesia saling terhubung satu sama lain. Dengan demikian, maka biaya logisik dapat ditekan seminimal mungkin. Saat ini, biaya domestik di Indonesia sebesar 24 persen masih tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lainnya.

Daya saing Indonesia dapat dilakukan dengan terus meningkatkan ekspor dan investasi. Meski demikian, hal itu perlu diimbangi dengan mempertahankan pasar domestik. “Ekspor dan investasi itu perlu kita dorong sehingga ini akan bisa meningkatkan daya saing kita bukan hanya di luar (negeri) tapi juga di sisi domestik,” jelas dia.

Salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah saat ini yakni dengan meluncurkan online single submission (OSS) untuk mengurusi masalah perizinan. OSS dan simplifikasi perizinan diterapkan dalam upaya untuk memperbaiki iklim usaha. Meski demikian, praktik di lapangan masih menemui banyak kendala. Hal tersebut terjadi karena masih banyaknya undang-undang yang mengatur soal perizinan.

“Maka ini mau kita terobos bagaimana caranya supaya OSS, online single submission, tadi jalan sampai ke pemerintah daerah maupun kementrian, lembaga adalah dengan membuat yang namanya omnibus law. Bentuknya bagaimana? Kita cabut satu-satu, 72 undang-undang (tentang) perizinan yang menghambat usaha,” jelas Iskandar dengan tegas. Selanjutnya, pemerintah akan mengadakan penataan kewenangan baik di administrasi pemerintahan maupun pada undang-undang pemerintahan daerah.

Iskandar memaparkan bahwa pemerintah sedang melakukan tranformasi ekonomi menuju Indonesia 2024. Kelima pilar transformasi ekonomi yakni: 1) Optimalisasi pemanfaatan infrastruktur; 2) Kebijakan pemerataan ekonomi; 3) Mengurangi ketergantungan terhadap modal asing (jangka pendek); 4) Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan efisiensi pasar tenaga kerja; 5) Konfigurasi investasi untuk mendukung pertumbuhan.

Masing-masing pilar itu saling berkaitan untuk membentuk fondasi pembangunan dan kualitas hidup masyarakat yang berkelanjutan.