Home Business Industri Kreatif di Tengah Berkembangnya Gig Economy

Industri Kreatif di Tengah Berkembangnya Gig Economy

liputan event universitas multimedia nusantara gading serpong jakarta tangerang umn talkshow narasumber speaker seminar workshop media partner
Creative Forum and Talks EUFORIA 2019 | Foto: Highlight.ID

Highlight.ID –¬†Sebelum internet dan media sosial semakin canggih seperti sekarang, orang harus datang ke kantor untuk bekerja. Istilah umumnya yakni ‘pekerja kantoran’ yang bekerja di kantor mulai dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Kini, kebiasaan itu perlahan berubah di mana makin terlihat orang-orang yang bekerja dan mampu memperoleh penghasilan hanya dengan mengandalkan koneksi internet. Mereka yang sering disebut dengan freelancer ini dapat bekerja di manapun tanpa dibatasi oleh sekat-sekat ruangan, apalagi harus datang ke kantor.

Di sisi lain, banyak perusahaan yang sekarang membutuhkan jasa para pekerja lepas yang memiliki kompetensi atau keahlian tertentu. Antara perusahaan atau pencari kerja dan freelancer saling berhubungan secara online tanpa mengharuskan mereka untuk bertatap muka. Sistem kerja seperti ini disebut juga dengan gig economy di mana semakin ngetrend di kalangan masyarakat Indonesia.

Gig economy yang berkembang di Indonesia menjadi tema sentral Creative Forum and Talks (CRAFT) yang diadakan di Function Hall, Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten, tanggal 25 April 2019. Talkshow dan forum yang bertajuk “Creative Industry towards Gig Economy Sector in the Era of Industrial Revolution 4.0” tersebut merupakan salah satu rangkaian acara Entrepreneur for Industrie Millennial (EUFORIA) 2019 yang berjudul “Contribute to the Change of Future”.

Para narasumber yang mengisi acara talksow yaitu Bontot Pandawa Satria Jaka (CEO Videoin.id), Michael Chrisyanto (Co-Founder Eatlah), dan Michael Budiman Mulyadi (Enterprise Partner Senior Managaer Kalibrr). Selain itu, acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMMA) Fakultas Bisnis Universitas Multimedia Nusantara ini diikuti oleh sebanyak 9 universitas dari berbagai daerah.

Baca juga:

Kesembilan universitas tersebut yakni Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, Kalbis Institute, Universitas Parahyangan, Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Buddhi Dharma (UBD), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, Universitas Insan Pembangunan, Universitas Bunda Mulia (UBM), dan Universitas Indonesia (UI).

Perkembangan Gig Economy

“Saat ini ada banyak banget profesi-profesi yang dulunya enggak ada, tapi sekarang ada kayak influencer, youtuber, blogger, videografer, dan lain-lain,” kata Bontot. Para pekerja tersebut memilih bekerja secara online tanpa harus bekerja ‘9 to 5’. Pasalnya, bekerja online menawarkan kebebasan dan fleksibilitas yang tinggi. Artinya, mereka dapat mengatur kapan harus menyelesaikan pekerjaan dan melakukan aktivitas lainnya.

Bontot menceritakan bahwa dirinya bekerja di dunia kreatif dengan menawarkan jasa video dan animasi. Ia membangun sebuah tim yang terdiri dari talent-talent dengan keahlian tertentu yang tersebar di berbagai daerah. Masing-masing anggota tim belum pernah bertemu sama sekali. “Dan itu bisa berjalan dengan baik dan lancar karena Industry 4.0, ada internet,” jelas dia.

liputan event universitas multimedia nusantara gading serpong jakarta tangerang umn talkshow narasumber speaker seminar workshop media partner
(kiri-kanan): Michael Chrisyanto (Co-Faounder Eatlah), dan Michael Budiman Mulyadi (Enterprise Partner Senior Managaer Kalibrr), Bontot Pandawa Satria Jaka (CEO Videoin.id) | Foto: Highlight.ID

“Gig economy itu suatu situasi ekonomi di mana para pekerja (beralih) dari pekerja tetap menjadi independent worker,” tambahnya. Bontot menjelaskan bahwa sekarang gig economy semakin berkembang karena mulai banyaknya platform-platform baik itu aplikasi maupun sosial media yang memungkinkan orang untuk bekerja secara lebih fleksibel.

Berkarier di Tengah Industri 4.0

Michael Budiman Mulyadi menuturkan bahwa dalam Revolusi Industri 4.0, letak permasalahan ada di sumber daya manusia. “Bagaimana kita meraih pekerjaan, bisnis yang lebih baik, semuanya tergantung pada manusianya,” kata dia.

Begitu juga yang terjadi dalam dunia karier di mana kemajuan/kemunduran sering diartikan sebagai sebuah garis lurus yang linier. Padahal, kenyataannya karier dapat berjalan tidak beraturan di mana setiap orang merasakan pengalaman yang berbeda-beda. Misalnya, orang yang bekerja di lapangan merasa enjoy dengan pekerjaannya dibanding harus bekerja sebagai bos di kantor.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam perjalanan karier, seseorang memerlukan suatu proses evolusi untuk meregenerasi dirinya. Dengan demikian, orang tersebut memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan ke arah yang lebih ideal seperti yang diinginkannya. Untuk bertahan di tengah derasnya arus teknologi seperti saat ini, ada beberapa hal yang harus dimiliki seseorang di antaranya yakni agility atau kelincahan untuk bergerak, kreativitas, skills, eksposur, dan wellbeing.

Menurut Michael Budiman, wellbeing yang seringkali terlupakan ini bukan soal finansial semata. Lebih dari itu, wellbeing adalah bagaimana kita bisa sejahtera secara batin. “Kita memang tidak pernah fokus melihat kesejahteraan secara spiritual, secara mental,” kata dia.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan sejak dini tentang nilai-nilai spiritual dan keimanan. “Kita perlu secara aktif dari segi pendidikan di rumah, sekolah juga,” tambahnya.

Branding dalam Bisnis

Sementara, Michael Chrisyanto menceritakan sepak terjangnya di dunia bisnis mulai dari fashion, branding agency hingga kuliner. Eatlah, adalah salah satu contoh brand yang mampu menarik minat anak muda. Dari pengalamannya berbisnis, Chrisyanto menekankan pentingnya branding untuk membangun persepsi khalayak.

“Kita memiliki konsep yang sangat simple, (yaitu) bagaimana mengubah persepsi berbelanja dan cara makan anak muda sekarang. Se-simple itu. Karena target pasar (Eatlah) waktu itu adalah orang kantoran. Ternyata, yang membuat booming malah anak mudanya,” papar dia. Hal itu terjadi karena anak muda sangat dekat dengan media sosial.

Selain itu, Chrisyanto menjelaskan bahwa branding harus disusun secara matang sehingga mampu bertahan di tengah persaingan bisnis. Branding tidak berarti harus mengikuti trend, namun mengikuti perkembangan trend merupakan keniscayaan untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan.

Setelah talkshow yang disampaikan oleh narasumber, acara dilanjutkan dengan forum yang membahas persoalan tertentu. Para mahasiswa dari berbagai universitas mengutarakan pendapatnya masing-masing untuk menanggapi statement yang diucapkan oleh moderator. Adapun beberapa tema yang dibahas yakni tentang hilangnya posisi-posisi pekerjaan akibat berkembanganya teknologi, masalah sekuritas di dunia siber hingga soal permodalan bisnis.

Selain talkshow dan forum, Euforia 2019 juga diisi dengan pameran bisnis yang bernama “Rebound” (Revolution of Business Industry) yang berlangsung dari tanggal 25 April hingga 2 Mei 2019. Para peserta pameran dinilai oleh venture capital dan berkesempatan mendapatkan modal. Sebagai penutup, Euforia 2019 mempersembahkan Millennial Music Art (Mighty) yang mengundang beberapa penyanyi maupun musisi seperti Jaz Hayat, Ardhito Pramono, dan Saturday Night.