Home Arts Jakarta Recycling Festival Gemakan Pentingnya Daur Ulang Sampah

Jakarta Recycling Festival Gemakan Pentingnya Daur Ulang Sampah

event terbaru Jakarta Recycling Festival
Jakarta Recycling Festival (JRF) 2019 | Foto: Highlight.ID

Highlight.ID – Penggunaan plastik yang berlebihan memicu berbagai persoalan lingkungan. Sampah plastik selain dapat mencemari laut juga dapat merusak ekosistem serta membunuh biota laut. Berdasarkan data dari United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2015, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak di dunia sebanyak 3,2 juta ton setelah China.

Permasalahan lingkungan hidup ini patut mendapatkan perhatian lebih dari segenap lapisan masyarakat. Untuk itulah, Jakarta Recycling Festival (JRF) hadir untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang perlunya daur ulang sampah plastik. Lewat acara ini pula, diharapkan masyarakat semakin peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Jakarta Recycling Festival yang baru pertama kalinya diselenggarakan melibatkan beberapa komunitas yang mempunyai kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, yakni Komunitas Akar Mimpi dan Ecallogy 4.0. “Ecallogy itu proyek mahasiswa internasional yang membawa relawan dari luar negeri ke Indonesia untuk melakukan kegiatan sosial khususnya lingkungan,” ujar Alvin Ghosan Aditya, Ketua Jakarta Recycling Festival 2019 kepada Highlight.ID.

Menurut Alvin, JRF yang diadakan tanggal 25 Agustus 2019 di Waterfront, Bay Walk Mall Pluit, Jakarta Utara merupakan kegiatan yang berada di luar kampus namun didukung sepenuhnya oleh Universitas Prasetiya Mulia. Para relawan yang terlibat juga merupakan mahasiswa Prasetiya Mulia yang sedang menempuh kuliah. “Untuk targetnya lebih ke masyarakat umum, (khususnya kaum) milenial dan generasi Z, jadi anak muda. Ini acara yang dibikin anak muda untuk anak muda,” tambahnya.

Baca juga:

Peduli Terhadap Lingkungan Hidup

“Kita melihat anak muda itu generasi penerus bangsa yang bisa menjaga lingkungan lebih baik lagi. Makanya kita pengen memberikan pengalaman, experience yang menyenangkan tapi edukatif buat mereka,” jelas Alvin. Bay Walk Mall, satu-satunya mall di Jakarta yang berhadapan langsung dengan laut sengaja dipilih sebagai tempat acara karena memang sesuai dengan tema dan konsep JRF itu sendiri.

Rangkaian kegiatan JRF seperti talkshow, perfomance, pameran, dan kompetisi. Ada tiga talkshow yang membahas tentang pelestarian lingkungan hidup dengan beberapa narasumber. Yang pertama, talkshow bertema “Solving Sustainable Development Goals (SDGs) 14 with International Volunteers”. “Mereka membahas solusi dari berbagai negara tentang masalah plastik,” kata Alvin.

Selanjutnya, talkshow bertema “Zero Waste Lifestyle” yang menghadirkan pembicara seperti Ratu Vasthi yang merupakan Miss Earth Indonesia 2018. Lalu ada Siska Nirmala, seorang petualang “Zero Waste” yang suka berkelana menjelajah dunia dengan gaya hidup yang ramah lingkungan.

event terbaru Jakarta Recycling Festival
Jakarta Recycling Festival (JRF) 2019 | Foto: Highlight.ID

Ada pula talkshow bertema “3R Industry Solution”. 3R itu sendiri merupakan “Reduce”, “Reuse”, dan “Recycle”. Alvin memaparkan, “Intinya kita ingin membahas solusi yang telah dilakukan oleh industri, kaya contohnya Alfamart. Alfamart ini mereka memproduksi kantong plastik, tapi mereka punya program CSR (corporate social responsibility) juga, yakni kantong sampah yang ramah lingkungan.”

Selain talkshow, JRF yang didukung oleh Alfamart, Jenius, dan Claris juga dimeriahkan dengan beberapa penampilan di atas panggung seperti “Kreasi Musik Sampah”, roll dance, dan Flashmob Vietnames Dance. Ada juga program kompetisi fotografi bertema “Dampak Sampah Plastik Terhadap Laut”. Karya para pemenang lomba fotografi dipamerkan pada saat acara JRF berlangsung.

Salah satu peserta pameran di JRF, yakni Heri yang berasal dari Buleleng, Bali. Ia bereksperimen menciptakan tong sampah yang dilengkapi dengan sensor untuk memilah sampah secara otomatis. Tong sampah yang dibeli lalu ia modifikasi dengan menggunakan peralatan yang ada. Adapun jenis sampah yang dapat dideteksi oleh alat tersebut yaitu sampah plastik, sampah organik, dan sampah besi.

“Cara kerjanya, dia memanfaatkan energi listrik statis yang ada di tubuh kita, lalu disalurkan ke sensor. Jadi, sensornya itu baca, apakah sampahnya itu termasuk kelompok konduktor, isolator atau semi konduktor,” jelas Heri. Menurut dia, sampah yang sudah dipilah sesuai jenisnya akan lebih mudah didaur ulang.

Namun kendala yang ada, sampah yang sudah dipilah tersebut pada akhirnya akan bercampur lagi ketika sudah berada di tempat pembuangan akhir (TPA). Tentang hal itu, Heri berharap agar pemerintah lebih memperhatikan proses pemilahan, pendistribusian, dan pembuangan sampah sesuai dengan jenisnya.

Sementara itu, ada pula proses daur ulang yang dilakukan oleh Precious Plastic, komunitas global yang mempunyai kepedulian untuk mengatasi masalah sampah plastik. Mereka berupaya mengubah sampah plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna seperti mangkok, gantungan kunci, dan lainnya.

Cara daur ulang yang mereka praktikkan, plastik yang telah dicacah menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu dimasukkan dalam oven untuk dilelehkan. Setelah itu, plastik yang telah meleleh dimasukkan ke dalam cetakan. Hasil akhirnya, plastik akan menjadi bentuk sesuai dengan cetakannya.