Home Beauty Jenis-jenis Teknologi Terkini yang Ampuh untuk Menghilangkan Jerawat

Jenis-jenis Teknologi Terkini yang Ampuh untuk Menghilangkan Jerawat

Jenis macam teknologi canggih terkini untuk mengatasi menyembuhkan jerawat
Ilustrasi | Foto; Istimewa

Highlight.ID – Jerawat yang merupakan salah satu permasalahan kulit paling umum dapat diatasi dengan menggunakan teknologi canggih yang berkembang di dunia kedokteran. Secara umum, akses masyarakat terhadap teknologi kedokteran bisa dilakukan dengan mengunjungi klinik kecantikan, rumah sakit atau dokter kulit.

Untuk menentukan jenis teknologi yang paling tepat untuk mengatasi jerawat, pasien perlu berkonsultasi dengan dokter yang berpengalaman dan tepercaya. Lewat sesi konsultasi, dokter akan menentukan jenis perawatan dan teknologi yang disesuaikan dengan permasalahan, kondisi dan jenis kulit pasien.

dr. Ridha Setiawati, Sp.KK., Dokter Estetika Lexa Skin Clinic, menuturkan, “Jenis treatment tentunya akan sesuai dengan kondisi klinis pasiennya. Misalnya [mengatasi] jerawat komedonal bisa dilakukan peeling saja untuk membuka tutup komedo, mengurangi komedo. Juga dapat dilakukan facial.”




Sedangkan untuk jerawat meradang seperti nodul, pasien mendapatkan injeksi atau suntik jerawat. Menurut dr. Ridha, pemakaian injeksi jerawat ini harus hati-hati karena jika terlalu sering akan dapat menimbulkan scar.

Alat-alat untuk Mengatasi Jerawat

Blue Light Therapy

“Selain itu, bisa dilakukan terapi dengan menggunakan alat seperti Photobiology Therapy atau biasanya lebih sering dikenal dengan Blue Light Therapy,” tambahnya. Perawatan blue light therapy menggunakan panjang gelombang 405 sampai 420 nanometer.

“Pada treatment ini, pasien akan diberikan sinar biru selama sekitar 20 menit. Jenis terapi ini akan mengaktifkan radikal bebas dan mengubah pH dalam sel bakteri sehingga akan menyebabkan kematian bakteri penyebab jerawat,” terang dr. Ridha kepada Highlight.ID.

Baca Juga: Kenali Penyebab Jerawat dan Cara Efektif untuk Mengatasinya




“Hasil akhirnya adalah jerawat yang meradang akan berkurang. Treatment ini tergolong aman dan banyak disukai oleh pasien karena nyaman dan tidak menimbulkan nyeri. Efek sampingnya juga sedikit,” terang wanita kelahiran Purbalingga ini.

Blue Light dan Red Light Therapy

“Terapi lain adalah kombinasi blue light dengan red light. Red light ini, penetrasinya ke kulit lebih dalam tetapi lebih silau. Biasanya digunakan untuk jerawat meradang atau banyak yang bernanah dan berkrusta. Blue light dan red light ini bisa dilakukan hingga 2 kali seminggu. Dari penelitian, banyak yang menyimpulkan perbaikannya signifikan setelah minggu kedua,” jelas dr. Ridha.

Light Head Energy (LHE)

Treatment selanjutnya adalah Light Head Energy (LHE) yang mampu mengurangi bakteri penyebab jerawat dan menghasilkan zat antiinflamasi.

Laser Nd:YAG

Selain itu, ada pula mesin laser Nd:YAG yang bersifat nonablatif dengan panjang gelombang 1064nm. dr. Ridha menambahkan, “Sudah banyak jurnal yang mengulas perubahan signifikan pada jumlah komedo, penurunan tingkat peradangan, penurunan produksi sebum serta secara histopatologi juga dapat dilihat bahwa tingkat peradangan berkurang, faktor inflamasi berkurang, ketebalan lapisan epidermis perifolikuler atau di sekitar folikel juga berkurang serta terjadinya peremajaan kulit.”

Baca Juga: Jerawat yang Mengganggu, Apa yang Terjadi Jika Dibiarkan?

dr. Ridha menerangkan, “Di klinik kami (Lexa Skin Clinic) sudah sering dilakukan terutama pada pasien dengan jerawat yang memiliki banyak scar. Jadi, sekaligus untuk terapi scar acne-nya.” Efek samping yang mungkin terjadi yakni kemerahan pada area kulit yang dirawat. Kemerahan pada kulit tersebut akan hilang dalam beberapa jam hingga 2 hari.

Perawatan seperti blue light therapy, kombinasi blue light dan red light therapy serta LHE memerlukan 1 sampai 3 kali sesi penyinaran. “Jika ada scar, laser Nd:YAG lebih disukai karena tidak menimbulkan kerusakan kulit seperti pada laser yang semi ablatif sehingga pasien masih bisa beraktivitas seperti biasa. Namun untuk scar memang memakan waktu yang lebih lama dibandingkan hanya untuk menghilangkan jerawat,” dr. Ridha memaparkan.

“Pasien yang menjalani treatment untuk menghilangkan jerawat, hasilnya bisa kita lihat beberapa hari maupun beberapa minggu setelah treatment. Injeksi jerawat misalnya, dalam 2 atau 3 hari, jerawat nodul yang teraba besar dan nyeri biasanya sudah kempes,” tambah dia.

Sementara, perawatan lain yang menggunakan blue light therapy, kombinasi blue light dan red light therapy, LHE atau laser, hasilnya tidak akan langsung terlihat dalam beberapa hari. Pasalnya, beberapa treatment tersebut bertujuan untuk mengurangi kuman penyebab jerawat dan peradangan.



 

Baca Juga: Ketahui Jenis-jenis Krim dan Obat untuk Menghilangkan Jerawat

Teknologi lain yang digunakan biasanya lebih banyak untuk menghilangkan bekas jerawat terutama bopeng atau scar. Contohnya adalah mikrodermabrasi, derma roller, dan laser yang ablatif maupun nonablatif.

Penggunaan Krim

Menurut dr. Ridha, pemakaian alat-alat untuk mengobati jerawat tidak terlepas dari pemakaian krim dan obat minum. “Jadi, sebaiknya krim memang rutin digunakan agar hasilnya optimal,” ujarnya. Manfaat krim di antaranya yakni mendorong regenerasi sel kulit, mencegah penyumbatan di kulit, dan mencegah agar jerawat tidak muncul lagi.

dr. Ridha menuturkan, “Jika penyebab jerawat dominan faktor eksternal dan sudah bisa dikendalikan, menghentikan pemakaian krim mungkin tidak akan membuat kulit kembali berjerawat yang parah lagi meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa jerawat akan timbul lagi.”

“Namun jika penyebab jerawat adalah faktor endogen seperti hormonal, biasanya setelah menghentikan krim, jerawat akan muncul lagi namun bisa lebih ringan jika faktor lain dikendalikan,” jelasnya.

Baca Juga: Cara Facial Wajah di Rumah untuk Dapatkan Kulit Bening Bebas Jerawat

Mencegah Jerawat Muncul Lagi

“Bagaimana caranya agar wajah bebas jerawat setelah menjalani perawatan? Tentunya, dengan mengendalikan faktor-faktor penyebab jerawat. Memang wanita tidak lepas dari jerawat terutama saat menstruasi karena saat itu, produksi sebum meningkat, kulit menjadi sembap sehingga sebum lebih mudah tersumbat dan timbul jerawat,” kata dr. Ridha.

Jika menggunakan perawatan wajah sesuai kondisi dan jenis kulit, jerawat akan lebih mudah dihindari. “Misalnya, kulit yang oily jangan kemudian menggunakan pelembap. Biasanya, pasien suka menggunakan pelembap dulu baru kemudian sunscreen padahal kulitnya sudah oily. Sehingga penggunaan pelembap dari luar ini justru akan menyebabkan sebum dari kulit susah untuk keluar.”

Faktor lain penyebab jerawat bisa muncul lagi yakni pemakaian produk kosmetik yang mudah menutup pori-pori atau bersifat komedogenik seperti foundation, bedak padat, dan BB cream. Oleh sebab itu, mereka yang mempunyai kulit berminyak perlu berhati-hati dalam memakai produk-produk kosmetik tersebut.

Selain itu, konsumsi makanan juga perlu diperhatikan. “Dari banyak penelitian, jerawat akan membaik jika kita mengurangi makanan yang manis, kemudian banyak mengandung lemak, susu sapi,” ujarnya.

dr. Ridha juga berpesan kepada setiap orang untuk memiliki kebiasaan membersihkan wajah namun tidak perlu berlebihan.