Home Beauty Manfaatkan Personal Branding, drg. Nena Febrina Buka Klinik Gigi

Manfaatkan Personal Branding, drg. Nena Febrina Buka Klinik Gigi

drg. Nena Febrina Dokter Gigi Beauteeth menceritakan kisahnya mengembangkan kliniknya
drg. Nena Febrina, Dokter Gigi Beauteeth Dental Clinic | Foto: Highlight.ID

Highlight.ID – Media sosial tak hanya berguna untuk berkomunikasi dengan teman, kerabat, relasi atau saudara. Lebih dari itu, media sosial bisa untuk meningkatkan personal branding dan mengembangkan bisnis. Potensi media sosial untuk pengembangan bisnis ternyata dimanfaatkan oleh drg. Nena Febrina, seorang Dokter Gigi sekaligus Pemilik Beauteeth Dental Clinic.

Awal Karier

Lahir di Jakarta, 21 Februari 1986, drg. Nena Febrina kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Bintaro, Jakarta Selatan. Setelah lulus S1 pada pertengahan tahun 2005 ia menjalani koas hingga mendapatkan gelar dokter gigi. Menurut cerita ibundanya, drg. Nena bercita-cita menjadi dokter sejak kecil. Namun, ia sendiri mengaku tidak begitu mengingat cita-cita pada masa kecilnya tersebut.



“Sebelum sumpah dokter, saya sempat udah kerja training, magang di kliniknya orang. Magang untuk memberanikan diri berkomunikasi sama pasien terus ketemu dengan berbagai karakter pasien. Jadi, itu udah ditanamkan sejak sebelum saya sumpah dokter,” kata drg. Nena kepada Highlight.ID di kliniknya yang berada di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Menekuni profesi dokter gigi sejak tahun 2010, drg. Nena lantas bekerja untuk menimba pengalaman dari satu klinik ke klinik lainnya. “Dulu dalam satu hari, saya bisa praktik itu di dua tempat. Misalnya shift pagi, saya di Pasar Minggu (Jakarta Selatan), shift sore saya bisa di Bintaro. Itu hampir setiap hari dikerjakan sampai sekitar tahun 2015,” tambahnya.

Baca juga:

Setelah sekitar 5 tahun bekerja di klinik milik orang lain, drg. Nena akhirnya ingin lebih mengeksplorasi potensi dirinya. Dalam perjalanannya, drg. Nena sempat merasa bimbang untuk membagi antara pekerjaan dengan statusnya sebagai seorang ibu yang telah mempunyai anak. Ia pun mulai memahami passion-nya yang lebih menyukai dental aesthetic. Pada saat yang bersamaan, drg. Nena juga menggemari fotografi.

“Saya akhirnya mendalami kedua bidang tersebut. Meskipun sekarang belum begitu ahli banget, tapi setidaknya udah tahu passion-nya di mana. Sampai sekarang, aku masih ‘menggali’ semua ilmu,” ungkap dia. Teknologi dan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran gigi terus berkembang. Untuk itu, drg. Nena aktif mengikuti seminar-seminar dan memperbarui pengetahuannya tentang perkembangan terknologi kedokteran gigi terkini.

Personal Branding

Sejak tahun 2017, dua tahun setelah ‘main’ Instagram, personal branding drg. Nena sudah mulai terlihat. Ia telah mengembangkan personal branding-nya melalui media sosial Instagram sebelum membuka klinik gigi sendiri. “Pada saat itu, sebenarnya Instagram udah lama banget ada. Cuman karena dulu kayak saya enggak begitu peduli sama media sosial. Tapi, makin saya ke sini, ketika saya terjun di dunia media sosial, saya malah punya banyak pasien,” jelas perempuan berzodiak Pisces ini.

Ia juga mendapatkan banyak hal dari pengalaman-pengalaman yang diceritakan oleh pasiennya. drg. Nena menceritakan, “Dari beragam pasien yang datang dari media sosial itu yang membuat akhirnya terciptalah suatu personal branding saya. Alhamdulillah sekarang mungkin sebagian orang udah kenal saya, drg. Nena yang praktik di Bintaro.”

drg. Nena Febrina Dokter Gigi Beauteeth menceritakan kisahnya mengembangkan kliniknya
Ilustrasi perlengkapan dokter gigi | Foto: tvo.org

Pemilik akun Instagram @nena_febrina ini terbilang ngehits dengan jumlah followers yang mencapai lebih dari 45 ribu. Di akun Instagram pribadinya, drg. Nena banyak mengunggah foto-foto yang bertema outfit of the day alias OOTD.

Namun demikian, drg. Nena tidak ingin hanya sebatas foto-foto OOTD saja. Lebih dari itu, ia aktif di Instagram, agar dirinya dikenal sebagai seorang dokter gigi. Di kemudian hari, aktivitasnya di media sosial ternyata amat membantu drg. Nena dalam upaya mempromosikan klinik gigi.

Membuka Klinik Gigi

Selanjutnya pada akhir tahun 2017, ia memutuskan untuk ‘lepas’ dari tempat ia bekerja dan mulai memberanikan diri untuk membuka praktik sendiri. Modal untuk membuka klinik berasal dari hasil kerja keras drg. Nena selama delapan tahun, praktik dari satu klinik ke klinik yang lain. Selain itu, drg. Nena juga mendapatkan dukungan penuh dari keluarga tercintanya.

Klinik milik drg. Nena bernama Beauteeth Dental Clinic secara resmi mulai berdiri sejak tahun awal tahun 2018 di mana ia dibantu oleh kakaknya dan 1 asisten pribadi. Ketika itu, kliniknya berada di sebuah salon kecantikan sebelum akhirnya pindah ke tempat yang lebih besar.


Setelah membuka klinik gigi, drg. Nena menyadari bahwa ada banyak tantangan yang harus dihadapi, di antaranya yakni branding dan pemasaran. “Itu kayak memulai hidup baru lagi karena semuanya dari nol lagi. Saya harus menyiapkan segala sesuatu yang tadinya disiapkan oleh klinik, saya harus menyiapkan sendiri semuanya,” imbuh dia.

drg. Nena sadar bahwa klinik gigi yang dikelolanya masih tergolong baru. Tantangan lain yang dihadapinya saat ini yakni alat-alat kedokteran gigi yang tergolong sangat mahal. Oleh karena itu, ia memfokuskan pada pemasaran agar pelanggan semakin banyak sehingga kelak ia dapat berinvestasi alat-alat terbaru.

Peran Media Sosial

Bagi drg. Nena, keaktifan dia di media sosial sangat membantu dalam upaya pemasaran klinik giginya. Ia berkata, “Dengan adanya media sosial ini sekalian untuk mengedukasi pasien-pasien atau yang menjadi calon pasien aku. Itu berdampak luar biasa ketika saya mulai menyukai dental photography. Saya suguhkan lah itu ke Instagram dengan foto-foto kasus yang pernah saya tangani. Saya jelasin di caption-nya.”

Unggahan-unggahan di media sosial ternyata dapat memancing respon followers-nya meskipun hanya sekadar bertanya. Bagi drg. Nena, hal itu pertanda bagus karena orang yang bertanya tersebut dapat menjadi calon klien di masa datang. “Meskipun tidak datang hari itu, misalkan dia tidak membutuhkan, dia bisa menceritakan ke orang lain. Media sosial itu dampaknya cukup luas. Terus akhirnya, saya merasa saya bisa mendatangkan pasien saya sendiri.”

Baca juga:

Antara pemasaran, media sosial, dan pasien saling berkelindan satu sama lain. Ia menuturkan, “Menurut aku itu kaya lingkaran yang berkesinambungan. Ketika kita punya banyak pasien, tahu karakter orang kaya gimana, kita tahu kasusnya kaya gimana, kita bisa ngerjain. Satu pasien itu bisa jadi pengalaman yang berharga banget.”

Melayani Pasien

Pasien yang datang mempunyai berbagai macam karakter dan kepribadian. Untuk itu, drg. Nena berupaya melayani pasien sebaik mungkin dengan melatih kesabaran dan tetap berpegang teguh pada SOP (standard operating procedure) yang ada.

“Kita kalo berkomunikasi sesama dokter masih bisa pake bahasa kedokteran. Tapi ketika pasien masuk, kita harus mengolah (pesan) lagi, gimana biar pasien itu ngerti. Itu salah satu tantangan buat seorang dokter gigi, dokter yang lain juga,” imbuhnya. Dalam melayani pasien, drg. Nena tidak ingin berkesan kaku dan berusaha mencairkan suasana untuk mengetahui secara mendalam apa yang menjadi keluhan mereka.

drg. Nena juga tidak mempermasalahkan apabila ada pasien yang datang hanya untuk sekadar konsultasi. Ia berujar, “Apapun semua pelayanannya, ya kalo bisa dikasih solusi. Orang yang datang ke sini pasti kan butuh solusi, kan. Saya justru senang dengan pasien-pasien yang mau datang ke klinik cuman mau konsultasi. Karena jarang, ada pasien kayak gitu.”

“Saya mau nge-branding, mau bikin klinik ini ada di tengah-tengah masyarakat yang harganya terjangkau, bisa mengerjakan semua kasus gigi dengan di-handle oleh dokter yang berkompetensi,” tutup dia.