Home Arts Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 dan Penerapannya

Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 dan Penerapannya

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Trend Forecasting 2019/2020 Application di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID
Muslim LifeFest 2019

Highlight.ID – Agar produk dapat relevan dengan tren yang berkembang di masyarakat maka diperlukan riset mulai dari elemen desain seperti warna, bentuk, tekstur, dan volume hingga pengaruh perubahan dinamika gaya hidup dan pola pikir masyarakat. Pengetahuan tentang aspek-aspek yang menunjang tren sangat diperlukan agar para pelaku industri kreatif dapat memahami dan memprediksi dengan tepat apa yang disukai oleh pasar.

Untuk itulah, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan Indonesia Trend Forecasting (ITF) yang dijalankan sejak tahun 2017. Indonesia Trend Forecasting dapat menjadi acuan bagi para pelaku industri termasuk di bidang fesyen dalam setiap rancangan produknya.




Trend Forecasting 2019/2020 bertema “Singularity” yang mencakup 4 sub tema yakni Exuberant, Svarga, Neo Medieval, dan Cortex. Tema ini dilandasi oleh paradoks yang dialami manusia berkaitan dengan eksistensinya yang terancam oleh keberadaan mesin. Adapun sub-sub tema tersebut merepresentasikan respons masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Wawan Rusiawan, selaku Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif, mengatakan bahwa Indonesia Trend Forecasting sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia. Untuk itulah, Indonesia Trend Forecasting dibawa ke ajang Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 untuk yang ketiga kalinya.

Baca juga:

Di MUFFEST 2019, Bekraf menggandeng 8 fashion designer ternama Indonesia untuk mempresentasikan Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 yang bertema “Singularity”. Masing-masing desainer merancang busana sesuai dengan sub tema ITF 2019/2020 dan mempersembahkannya di hadapan pemerhati fesyen Tanah Air.

Kedelapan desainer tersebut yakni Danjyo Hiyoji dan Hannie Hananto yang membawakan tema “Exuberant”; Happa by Mel Ahyar dan Barli Asmara dengan tema “Svarga”; Irmasari Joedawinata dan Monika Jufry menampilkan tema “Cortex”; dan Syukrian Rusydi dan Rosie Rahmadi dengan tema “Neo Medieval”.

Trend Forecasting 2019/2020 Application di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019

Exuberant

Tema ini menggambarkan suatu sikap manusia yang optimis dan antusias ketika melihat dan menerima artificial intelligent (AI) namun sekaligus merasa santai karena sudah menyentuh kehidupan sehari-hari. Exuberant terdiri dari berbagai sub tema yakni Posh Nerds (kutu buku berkelas), Urban Caricature (karikatur metropolitan), dan New Age Zen (zen generasi baru).

Posh Nerds memadukan gaya sporty yang santai dengan gaya formal yang cenderung feminin. Hasilnya, kesan aneh namun tetap terlihat cute. Sedangkan Urban Caricature mengambil seni urban dan gaya pop-punk yang kental, menampilkan street graphic dan parodi karikatur yang diterapkan pada bentuk siluet maupun motif. Kesan Urban Caricature yakni quirky, snob, dan aktif. Sementara, New Age Zen merupakan bentuk tradisional Asia yang berpadu dengan minimalis kontemporer dengan kesan tenang dan modern.

Danyjo Hiyoji dan Hannie Hananto membawakan koleksi yang bertema Exuberant yang berkesan santai, ramah, sedikit nerdy, namun tetap stylish, ceria, dan lucu. Liza Masitha, mengatakan bahwa MUFFEST 2019 menjadi kesempatan bagi Danjyo Hiyoji untuk menampilkan koleksi pakaian muslim pertama kalinya. Ke depannya, Danjyo Hiyoji berharap dapat konsisten mengeluarkan koleksi pakaian muslim. Sedangkan koleksi Hannie Hananto terinspirasi dari supermarket dan pelukis pop art Andy Warhol.

Danjyo Hiyoji

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Danjyo Hiyoji di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID

Hannie Hananto

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Hannie Hananto di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID

Svarga

Melihat sisi kemanusiaan dari ariticial intilligent (AI), Svarga merupakan jembatan dari berbagai perbedaan yang ada untuk menjadi suatu harmoni. Keterbukaan pemikiran masyarakat menciptakan multikulturasi yang terlihat dari tabrak corak, etnik, dan kriya yang berpadu satu sama lain namun tetap memperhatikan keseimbangan satu dan yang lain. Svarga terdiri dari 3 subtema yaitu Couture Boho (adi bohemia), Upskill Craft (kriya berkelas), dan Festiva-Fiesta (pesta kegembiraan).

Couture Boho mencampurkan elemen kultual yang mewah dan eksklusif, kaya akan detail serta bergaya burgeoise yang elegan. Subtema ini mengangkat kekayaan tradisional dengan tingkat keahliah tinggi. Sedangkan Upskill Craft merupakan peningkatan nilai dari hasil kriya yang dibuat menjadi seni kontemporer. Berkesan indigenous, down to earth, soft, dan eclectic. subtema ini banyak menggunakan teknik kriya dan tenun. Sementara Festive-Fiesta merupakan bentuk perayaan atas bersatunya umat manusia yang menampilkan pattern-blocking dengan motif multibudaya dengan gaya boho yang lebih kontemporer.

Desainer yang membawakan tema “Svarga” yakni Happa by Mel  Ahyar dan Barli Asmara. Kali ini, Happa by Mel Ahyar mengangkat kebudayaan Nusa Tenggara Timur (NTT) lewat karyanya yang berjudul “Hulu Laran Resort 19”. Happa mengangkat dua cerita budaya sebagai inspirasi, yakni kisah Sang Penyair dari bagian Timur dan Tari Caci dari bagian Barat.

Kisah Sang Penyair dituangkan dalam bentuk visual bordir dan print pada kain. Sastra lama suku Lamaholot terlihat pada aksen bordir yang diaplikasikan pada detail koleksi. Ilustrasi print pada bahan kanvas linen dan katun menampilkan simbol-simbol Sang Penyair. Sedangkan desain dan warna koleksi terbaru Happa merupakan interpretasi modern dari kostum tradisional Tari Caci.

Happa by Mel Ahyar

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Happa by Mel Ahyar di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID

Barli Asmara

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Barli Asmara di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID

Cortex

Cortex merupakan paradoks kecerdasan buatan di era revolusi digital yang terdiri dari beberapa subtema yakni Fractaluscious (keindahan fraktal), Lucid (jelas), dan Glitch (seni multifungsi). Desainer yang membawakan tema Cortex yakni Irmasari Joedawinata dan Monika Jufry.

Fractaluscious merupakan bentukan tak terduga yang muncul secara dinamis dan berkesan seperti organisme yang tumbuh dan bergerak. Sedangkan Lucid lebih bermain pada kesan translucent dan tembus pada material yang dipakai sehingga berkesan minimalis, sleek, vivid, dan clean. Subtema terakhir, Glitch lebih menekankan pada tekstur mapun motif ombre dengan kesan tidak beraturan.

Irmasari Joedawinata

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Irmasari Joedawinata di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID

Monika Jufry

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Monika Jufry di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID

Neo Medieval

Neo Medieval menggambarkan ‘benteng pertahanan’ yang memicu romantisme dalam sejarah akibat ketakutan akan kemungkinan masa depan. Tema abad pertengahan menyatu dengan pesona teknologi canggih sehingga menghasilkan dunia baru yang rusuh namun penuh imajinasi. Terdapat 3 subtema yakni The Futurist (para futuris), Armoury (pertahanan), dan Dystopian Fortess (benteng kegelapan). Kali ini, Rosie Rahmadi dan Syukrian Rusydi membawakan koleksi bertema Neo Medieval.

The Futurist memakai gaya romantis dan elegan yang kental dengan penggunaan canggih terkini pada teknik potongan dan materialnya. Kesan yang ditimbulkan adalah clean, sleek, dan kontemporer. Subtema kedua, Armoury dengan gaya paling maskulin yang berkesan kolosal, menggambarkan ketegasa dan keberanian para pasukan di garis depan. Dystopian Fortrees menggambarkan sisi kegelapan dari kehidupan antargalaksi. Penggunaan teknik drappery dan kesan unfinished digunakan untuk merepresentasikan subtema ini.

Syukrian Rusydi

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Syukrian Rusydi di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID

Rosie Rahmadi

liputan event muslim fashion festival muffest 2019 desainer merek brand lokal panduan indonesia trend forecasting singularity cortex neo medieval svarga exuberant
Karya Rosie Rahmadi di Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019 | Foto: Highlight.ID



Artikel Menarik:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here