Home Business Menjadi Psikolog, Cut Maghfirah Faisal Terus Lakukan Refleksi Diri

Menjadi Psikolog, Cut Maghfirah Faisal Terus Lakukan Refleksi Diri

Pengalaman bekerja berkarier menjadi sebagai psikolog tugas tanggung jawab
Cut Maghfirah Faisal, S.PSi, M.Psi, Psikolog | Foto: Dok. Pribadi

Highlight.ID – Setiap orang memiliki sifat dan menampilkan sikap serta perilaku yang berbeda-beda. Itulah yang kemudian membuat Cut Maghfirah Faisal, S.PSi, M.Psi, Psikolog merasa tertarik untuk mempelajari Psikologi. Ketertarikan Cut Maghfirah pada Psikologi sudah dirasakannya sejak ia masih di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Namun demikian, ketika di sekolah menengah atas (SMA), Cut Maghfirah sempat berpikir untuk menekuni bidang lain.

“Ketika SMA sempat ganti cita-cita, masih galau. Tapi akhirnya di masa-masa akhir SMA, kembali lagi ingin mendalami Ilmu Psikologi dengan alasan yang kurang lebih sama. Intinya, ingin lebih mengenali diri saya sendiri. Apa yang membuat saya menjadi orang seperti ini? Apa yang membuat orang lain seperti ini?” Cut Maghfirah menceritakan kepada Highlight.ID.

Membantu Orang Lain




Dengan menekuni Psikologi, Cut Maghfirah berharap bisa membantu orang lain dengan daya analisa yang dimilikinya. “Pada saat itu, ketika masih SMA, itu kan masih punya idealisme misalnya ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anak, ingin mempunyai pekerjaan yang tidak hanya berorientasi pada uang tapi juga pada kebermanfaatan dan fleksibilitas waktu sehingga nantinya saya bisa mengurus keluarga, membantu orang lain, dan bekerja sesuai dengan passion saya,” kata wanita yang biasa dipanggil Fira ini.

Lulus SMA, ia pun kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Selanjutnya, tetap di UI, Fira mengambil S2 Profesi Jurusan Psikologi Klinis Dewasa dengan tujuan agar ia bisa menekuni profesi sebagai Psikolog. Setelah merampungkan kuliahnya, Fira sempat bekerja di sekitar Depok, Jawa Barat dengan menerima klien, terlibat dalam proyek rekrutmen, dan lainnya sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke daerah asalnya, Banda Aceh. Di sana, Fira berpraktik secara mandiri baik offline maupun online di mana ia membuka layanan psikologi.

Baca Juga:
Self-Harm, Kenapa Orang Sengaja Melakukannya?




Sejak lulus kuliah, Fira mengaku sudah menjadi mitra Psikolog di beberapa tempat termasuk Ibunda.id dan Kalm. Ia sering mendapatkan pekerjaan terutama dari wilayah Jawa. Itulah kenapa, ia fokus pada layanan e-counseling via video call, voice call atau platform chatting. “Sejak pandemi [Covid-19], kegiatan konseling lebih banyak fokus ke online. Bagi saya, saya sudah start duluan, konseling online seperti ini,” ia menambahkan.

Menikmati Pekerjaan

Menurut Fira, keadaan pandemi memunculkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara online seperti webinar atau Instagram live di mana ia sering terlibat di dalamnya. “Saya juga rutin, sering sekali, hampir setiap minggu mengisi webinar. Jadi, tidak terkendala jarak lagi. Bahkan sejak pandemi, saya bisa join lagi proyek-proyek rekrutmen atau asesmen misalnya mewawancarai calon pegawai BUMN atau pejabat-pejabat kementrian,” ujar Pendiri Sanubari Psikologi ini.

Menekuni pekerjaan sebagai Psikolog, Fira mengaku merasa enjoy karena memang sesuai dengan minatnya sejak dulu. “Ketika diberikan tugas ngisi webinar ini yang harus membuat saya baca-baca buku, jurnal lagi, itu ada kesenangan tersendiri karena rasa ingin tahunya terpenuhi. Terus juga bisa mendapatkan kenalan baru. Kemudian, pasti ada rasa bahagia dan bangga tersendiri ketika klien menunjukkan kemajuan yang positif.”

Poin positif lainnya, Fira merasa memiliki waktu yang lebih fleksibel di mana ia bisa melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, mengurus keluarga di rumah.

Baca Juga:
Manfaat yang Kamu Dapatkan dengan Konsultasi ke Psikolog

Pengalaman bekerja berkarier menjadi sebagai psikolog tugas tanggung jawab
Cut Maghfirah Faisal, S.PSi, M.Psi, Psikolog | Foto: Dok. Pribadi

“Filosofi saya dalam bekerja, apa yang disampaikan dari hati maka akan sampai pula ke hati. Misalnya saya memberikan konseling atau mengisi webinar, saya selalu berusaha menyampaikan poin-poin itu bukan hanya teori tapi juga dari penghayatan, hati, empati saya,” ungkapnya.

Menekuni profesinya di bidang Psikologi, Cut Maghfira ingin terus berkarya termasuk konseling, mengisi training maupun seminar. “Saya pribadi ingin membuka biro psikologi di kota kelahiran saya, Banda Aceh.”

Masih Ada Stigma Negatif

Meski demikian, Fira masih melihat adanya pemahaman yang salah atau stigma negatif terhadap Psikolog. Stigma yang dimaksud yakni anggapan bahwa orang yang berkonsultasi dengan Psikolog dicap sebagai ‘orang gila’. Padahal, menurut Fira, orang yang menemui psikolog belum tentu mengalami gangguan jiwa berat. Psikolog juga bisa menjadi rujukan bagi mereka yang ingin mengutarakan masalah-masalah kecil atau konsultasi untuk pengembangan diri.

“Terkadang, orang melihat psikolog itu pasti hidupnya sudah sempurna, nggak ada masalah, bisa dijadikan panutan, dan sebagainya. Padahal kan sebenarnya, psikolog itu juga manusia biasa yang bisa jadi punya masalah, bisa jadi melakukan kesalahan. Tapi, menurut saya, sekarang saya sudah bisa mengatasi hal itu. Saya nggak ragu untuk menunjukkan vulnerability saya kepada orang-orang,” kata wanita yang hobi menyanyi ini.



Baca Juga:
Kenali Beragam Manfaat Hipnoterapi dan Tahapannya

Dengan cara tersebut, Fira ingin memotivasi orang agar tidak merasa enggan atau takut untuk menceritakan permasalah hidupnya. Karena pada dasarnya, mempunyai berbagai macam permasalahan hidup sangatlah normal.

“Saya berharap, orang-orang bisa makin aware sama pentingnya kesehatan mental, stigma-stigma negatif tentang kesehatan mental, gangguan jiwa, dan sebagainya bisa berkurang,” ujarnya.

Mengenali Diri Sendiri

Untuk menjadi psikolog, seseorang harus menempuh pendidikan minimal S2 (Magister) Psikologi Profesi karena lulus Program Studi S1 Psikologi saja belum cukup. Bagi Fira, menjadi Psikolog seperti halnya refleksi dan penemuan diri yang tak pernah berakhir. “Saya selalu berusaha lebih mengenali diri saya sendiri,” ucapnya.

“Kita itu nggak akan bisa membantu orang lain kalau kita nggak membantu diri kita sendiri. Dan kita juga nggak akan bisa membantu orang lain mengenali dirinya sendiri kalau kita nggak berusaha mengenali diri kita,” ia menambahkan.

Ketika seseorang – dalam hal ini, psikolog – menyadari dirinya bahwa ia mempunyai kelebihan dan kelemahan, maka ia bisa memberikan pencerahan kepada klien. “Kita nggak hanya mengikuti teori tapi juga kita benar-benar memahami, ketika ada klien bermasalah, kita bisa benar-benar berempati. Kita juga berempati kepada diri kita sendiri.”

Tak hanya sekadar mengandalkan kecerdasan, psikolog juga harus mempunyai seni dalam menangani permasalahan klien termasuk jenis perawatan atau terapi yang dipilih. “Itu semua nggak akan bisa kita lakukan kalau kita nggak sering berefleksi. Psikolog itu harus selalu terus menerus belajar mengenali dirinya sendiri supaya lebih optimal membantu orang lain,” ujarnya.