Home Arts Talia Subandrio: Makeup Adalah Media yang Tepat untuk Berkarya

Talia Subandrio: Makeup Adalah Media yang Tepat untuk Berkarya

Profesi makeup artist (MUA) profesional ruang lingkup deskipsi pekerjaan pengalaman jasa layanan
Talia Subandrio (Makeup Artist Profesional) | Foto: Dok. Pribadi

Highlight.ID – Semenjak kecil, Talia Subandrio mempunyai ketertarikan terhadap dunia seni. Minatnya pada seni diekspresikan lewat aktivitas seperti menggambar, melukis, dan prakarya. Tak hanya itu, fashion dan makeup juga membuat Talia tertarik kepadanya. Waktu kecil, ia mengaku suka melihat tantenya yang lagi dandan. “Menurut aku itu menarik banget ya,” katanya.

“Sampai remaja, kuliah itu aku juga udah mulai main-main makeup. Feedback dari teman-teman aku, mereka semua suka sama hasil-hasil makeup yang aku lakukan ke diri aku sendiri. Pada waktu itu, mostly cuman untuk having fun aja, sih. Mempercantik diri,” Talia menceritakan kepada Highlight.ID.




Pindah Haluan

Setelah lulus kuliah S1 Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti, Talia sempat menekuni beberapa profesi sebagai fashion stylist dan desainer grafis di production house dan majalah. “Somehow, di perjalanan itu, aku ngerasa belum mendapatkan media yang tepat untuk berkarya. Kayak belum ada yang sreg, gitu,” kata perempuan kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 17 Juni 1982 ini.

Suatu hari, Talia yang menyukai sketching dan menggambar ngobrol-ngobrol bersama sahabat dekatnya. Sahabatnya itu lalu bertanya: “Tal, kenapa kamu nggak jadi makeup artist, aja?” Pertanyaan itu ternyata mampu membuat pikiran Talia menjadi terbuka. “Dulu belum pernah kepikiran sedikit pun untuk jadi makeup artist.”

Baca juga:

Lantas, ia pun mulai mencari segala informasi yang berkaitan dengan profesi makeup artist. Setelah melakukan penggalian informasi, Talia sampai di titik di mana ia berusaha mencari sekolah makeup di Jakarta. Setelah melalui pertimbangan yang cukup lama, Talia memutuskan untuk sekolah di Jurusan Artistic Makeup, LaSalle College Jakarta.

Pemilik zodiak Gemini ini mengaku justru lebih giat belajar di sekolah makeup dibandingkan ketika kuliah S1. Bagi Talia, makeup merupakan media yang tepat untuk berkarya secara manual dengan menggunakan tangan. “Aku merasa cocok banget. Jadi semangat sekolahnya. Waktu sekolah, semua energi, pikiran itu aku fokusin buat belajar. Tiap hari ke perpustakaan, baca. Latihan makeup mau itu di kelas ataupun di rumah itu selalu aku luangkan waktu. Aku berpikir, practice makes perfect, right?” ujar Talia yang menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan seni, musik, dan olah raga ini.

Membangun Relasi

Rajin belajar makeup agar cepat bisa, Talia kemudian mulai membangun networking. “Mulai dari yang terdekat seperti kenal anak-anak fotografi. Dan aku sama teman-teman jurusan Fotografi sering bikin project bareng, foto-foto. Dan mereka juga bantuin aku di saat tugas akhir. Dari situ aku jadi bisa membangun network. Kebetulan aku juga punya banyak teman-teman yang bekerja di industri advertising, media atau musik,” sambungnya.

Talia menuturkan, “Mau dibayar, nggak dibayar yang penting aku bisa punya kesempatan buat menunjukkan ke orang-orang bahwa sekarang aku serius di [bidang] makeup dan mau menunjukkan skill, kualitas aku bahwa aku memang capable in doing makeup. Pelan-pelan mulai memperkenalkan diri, project apapun aku lakukan, bekerja sebaik-baiknya dan sebagus-bagusnya.”

Lulus dari LaSalle College, Talia lalu mencari-cari pekerjaan dan akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan kosmetik ternama, MAC Cosmetics. Selama bekerja, Talia menyempatkan untuk mengerjakan proyek di luar. “Lama-lama networking-nya, portfolionya bertambah. Akhirnya tawaran-tawaran pekerjaan yang masuk juga pastinya berkembang dari project kecil sampai project yang lebih legit dan fee-nya juga lebih oke.”

Kini, Talia menjadi Makeup Artist (MUA) profesional yang sering terlibat dalam proses produksi fashion, komersial, dan film. Di samping itu, ia juga menggarap bridal, dan proyek-proyek lain seperti video musik serta industri kreatif lainnya yang membutuhkan jasa makeup artist. Talia juga seorang penyanyi yang pernah mengeluarkan single.

Setelah bekerja selama 8 bulan, Talia mendapatkan tawaran untuk mengajar di sekolah tempat dulu ia pernah belajar. Tawaran itu diterimanya dengan perasaan gembira. Meski demikian, ia tetap memprioritaskan diri sebagai freelance makeup artist di luar waktu mengajar.

Profesi makeup artist (MUA) profesional ruang lingkup deskipsi pekerjaan pengalaman jasa layanan
Ilustrasi | Foto: pixabay.com

Menggarap Film

Sekitar tahun 2016, Talia pernah terlibat dalam pembuatan film berjudul “The Players” sebagai Chief Makeup and Hair Department. Itu adalah proyek pertamanya di produksi film di mana ia mengurusi makeup semua pemeran film mulai dari pemeran utama, pemeran pendukung hingga extras. “Itu seru banget akhirnya aku mendapatkan project film dan deg-degan juga karena tantangannya belum pernah pegang [proyek] film pada saat itu,” katanya.

“Dari situ aku belajar cara pembuatan film, makeup untuk film, pembentukan karakter. Itu belajar banyak banget dan di situ aku juga pertama kalinya merasakan syuting yang sangat panjang waktu kerjanya. Bisa onset jam 4 pagi, pulang jam 3 pagi. Pulang ke rumah, mandi doang terus pergi lagi. Udah harus syuting lagi,” ungkap Talia.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Talia merasa bahwa proses pembuatan film termasuk berat. Meski demikian, ia merasakan kepuasan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Meski film tersebut tidak tayang, namun Talia telah mendapatkan pengalaman berharga. Berkat keterlibatannya dalam film itu pula, Talia mendapatkan tawaran untuk film-film yang lain. “Pada waktu itu, aku push my self harder untuk bisa bekerja dengan baik meskipun fisiknya lelah. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan film itu dengan baik.”

Mengatasi Tantangan

Sadar bahwa makeup artist adalah profesi yang sesuai passion-nya, Talia berupaya untuk menikmati setiap proses, termasuk tantangan-tantangan yang ada. Ia pun tak ingin hambatan yang ada selama menjalankan profesinya sebagai beban. “Justru tantangan itu yang dicari. Di saat aku ditawarin project, lalu dikasih brief dan brief itu mungkin konsep yang belum pernah aku kerjakan sebelumnya, something new. Aku merasa tertantang tapi juga excited. Semangat untuk ngerjainnya. Dengan adanya tantangan, berarti aku bisa belajar. Menurut aku proses belajar yang paling efektif itu adalah jam terbang.”

Baca juga:

Tantangan lainnya adalah jam kerja yang panjang. Misalkan produksi fashion atau iklan yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Lain lagi dengan produksi film yang mempunyai masa kerja lebih panjang setiap harinya. Oleh karenanya, fisik yang prima dan mental yang kuat menjadi keharusan agar Talia dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

“Harus menjaga kesehatan badan. Jadi, olah raga menurut aku itu penting banget supaya kita kuat pas lagi syuting selama berjam-jam. Terus juga mental karena di saat syuting itu pasti akan ada tekanan, pressure,” ucapnya. Jika kondisi mental dan fisik tidak bagus, maka akan dapat menyebabkan mental breakdown.

“Sangat penting, wajib banget untuk selalu menyelesaikan project sampai akhir betapapun sulitnya project itu. Atau apapun kendalanya harus diselesaikan sampai akhir dan tetap dengan hasil yang maksimal,” kata dia. Untuk itu, profesionalisme, integritas, dan etika kerja menjadi nilai-nilai yang dipengang Talia dengan erat.

Talia mengatakan bahwa ia ingin sekali sekolah lagi, belajar tentang special effect dan prostetic makeup. “Aku juga pengin mendapatkan [tawaran] film yang [menampilkan] makeup periode dan fashion makeup. Menurutnya, mengerjakan film-film seperti itu lebih menyenangkan karena memacunya untuk terus belajar hal-hal baru.