Home Business Alodokter, Platform Dukungan Kesehatan yang Inovatif

Alodokter, Platform Dukungan Kesehatan yang Inovatif

Platform Alodokter bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Suci Arumsari (Co-Founder dan Director Alodokter) | Foto: Ist.

Highlight.ID – Berdiri sejak tahun 2014, Alodokter telah menjadi super app kesehatan di Indonesia yang telah diunduh lebih dari 18 juta pengguna aktif setiap bulannya. Sejak kehadirannya, Alodokter mampu mengubah layanan kesehatan dengan menyediakan informasi medis yang mudah dipahami, akurat, dan dapat diakses oleh siapa saja.

Alodokter menyediakan layanan medis terintegrasi dan lengkap yang meliputi konten kesehatan terkini, chat secara langsung bersama dokter, online booking platform untuk konsultasi dengan dokter, dan mencari rumah sakit pilihan. Seluruh layanan Alodokter tersedia dalam versi web dan aplikasi mobile yang didukung oleh dokter umum maupun spesialis yang tersebar di seluruh Indonesia.



Suci Arumsari selaku Co-Founder dan Director Alodokter menjelaskan, “Alodokter ini merupakan situs/aplikasi nomor satu di Indonesia di mana kita ingin menjadi platform dukungan yang terbesar dan terlengkap untuk masyarakat khususnya keluarga muda Indonesia supaya bisa mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya.”

Ia menceritakan dirinya pernah mengalami masalah pada tulang belakangnya. Ketika itu, ia berupaya mencari berbagai informasi tentang penyakit yang dideritanya. Namun demikian, ada beberapa pertanyaan yang menggelayuti pikirannya seperti: Informasinya dari siapa? Apakah informasi tersebut dapat dipercaya?

Baca juga:

Dari berbagai pertanyaan yang membuatnya gelisah tersebut, akhirnya Suci bersama partner-nya Nathanael Faibis mendirikan Alodokter. “Visi Alodokter ingin memberikan informasi yang tidak berat sebelah di mana informasi yang dihasilkan memang harus benar-benar akurat dan sesuai dengan informasi medis. Tidak ada tambahan, tidak ada pengurangan. Jadi, bukan informasi yang ingin kita dengar, tapi informasi yang memang harus kita ketahui,” jelas Suci.

“Kalo kita ingin mendengar informasi tentang kesehatan pengennya yang bagus-bagus. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu. Itulah awal terbentuknya Alodokter. Fitur-fiturnya pun terus berlanjut sesuai dengan visi kita, ingin menjadi platform dukungan kesehatan yang lengkap,” tambahnya.

Dalam pengamatan Suci, masyarakat seringkali menyepelekan permasalahan kesehatan dengan berbagai alasan. Untuk itu, Alodokter menjadi ‘jembatan pertama’ yang menghubungkan antara masyarakat dengan dokter. Lewat artikel-artikel yang tersedia di Alodokter, pengguna dapat menyerap berbagai informasi yang bermanfaat. Selain itu, mereka juga dapat chat dengan dokter dan kemudian melakukan booking secara online.

“Jadi Alodokter ini bukan menggantikan dokter, tapi kita menjembatani antara pasien ke dokter kita. Kita kasih tahu dulu, apa yang jadi langkah awalnya. Setelah baca artikel, kita mau chat dulu sama dokter (untuk) penangananya. Kalo kita nggak berhadapan langsung dengan dokter mungkin tidak tahu sakitnya apa. Alodokter tidak memberikan keputusan pada saat itu juga, tapi kita memberikan yang namanya pencerahan,” ujar Suci.


Apabila pasien hendak bertatap muka secara langsung dengan dokter yang dekat dengan lokasi, maka mereka dapat memanfaatkan fasilitas booking dokter. Tak hanya itu, Alodokter juga menyediakan fasilitas berupa santunan rawat inap. Suci menuturkan, “Kita juga punya proteksi Alodokter yang bisa membantu kita. Hanya dengan biaya 95 ribu rupiah (per bulan), kita bisa memiliki santunan rawat inap sebesar satu juta rupiah (per hari) walaupun sudah di-cover oleh BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) maupun asuransi.”

Kolaborasi dengan IDI

Inovasi terus dilakukan Alodokter, salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi kedokteran terbesar di Indonesia. Kerja sama antara Alomedika dengan IDI secara resmi ditandatangani pada Sabtu, 26 Oktober 2019 di Jakarta.

Lewat kerja sama tersebut, Alomedika, salah satu platform komunitas dokter terbesar di Indonesia yang merupakan bagian dari Alodokter, bisa mengeluarkan poin Satuan Kredit Profesi (SKP). SKP tersebut diperlukan dokter untuk memperbarui Surat Izin Praktik (SIP) setiap lima tahun sekali.

“Buat Alodokter, ini merupakan satu achievement terbesar karena kita bisa membantu dokter-dokter di Indonesia untuk mendapatkan SKP di Alomedika. Nah, Alomedika adalah platform dokter terbesar, ada informasi-informasi lengkap mengenai medis yang akurat. Terus dokter-dokter bisa sharing, berbagi informasi,” kata Suci. Alodokter memberikan perhatian kepada kemajuan dokter-dokter di Indonesia karena perannya yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan.

Platform Alodokter bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Press Conference Kolaborasi Alodokter dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) | Foto: Ist.

“Dokter itu membantu kita sangat, lho. Satu, membantu kita untuk menjadi sehat. Kedua, dokter bukan hanya sekadar memberi obat, tapi dokter memberikan yang namanya pengetahuan dan juga cara bagaimana kita supaya nggak sakit. Oleh karena itu, dokter-dokter di Indonesia perlu diberikan sesuatu untuk memudahkan mereka supaya mereka bisa melebarkan sayapnya, memudahkan mereka untuk membuka praktik, salah satunya dengan SKP. SKP itu salah satu kewajiban supaya dia dapat izin praktik.,” imbuhnya.

Sementara itu, dr. Daeng M Faqih sebagai Ketua Umum PB IDI menjelaskan bahwa dokter memiliki beberapa kewajiban. “Kecepatan informasi itu bukan hanya untuk masyarakat, tapi juga untuk dokter. Di dalam undang-undang praktik kedokteran, dokter itu punya kewajiban. Kewajiban pertama itu menjaga kompetensinya, menjaga keilmuannya, menjaga keahliannya. Kewajiban kedua, menambah informasi-informasi keilmuan terbaru. Inilah makna strategis kolaborasi dengan Alodokter dalam ekosistem Alomedika,” kata dr. Daeng.

Menurut penjelasan dr. Daeng, untuk menambah ilmu dan pengetahuan, dokter harus mengikuti seminar tatap muka yang memakan biaya mahal. Selain itu, upaya peningkatan kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan setiap saat. dr. Daeng berkata, “Tetapi dengan bantuan Alomedika, menambah ilmunya itu setiap saat. Biayanya pun murah karena tidak harus mengikuti seminar. Disediakan gratis, setiap saat (dokter) bisa mengakses. Dalam kolaborasi ini, semua materi yang ada di Alodokter itu diakreditasi oleh IDI.”

“Kita di Ikatan Dokter Indonesia ada lembaga namanya BP2KB, Badan Pengembangan dan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan. Kolaborasi ini bagus karena bukan hanya ditulis oleh seorang dokter, materi-materi untuk peningkatan keilmuan, tapi kemudian diverifikasi tulisannya oleh Tim BP2KB PB IDI. Sehingga ilmu yang masuk di dalam situs Alomedika itu sudah di-review. Dan itu akan menjadi kredibel supaya dokter yang belajar di Alomedika betul-betul mendapatkan ilmu yang sudah menjadi standar di komunitas kedokteran, sudah evidence-based,” tambah dr. Daeng.

Baca juga:

Alomedika

“Alomedika merupakan bagian dari ekosistem Alodokter, di mana Alomedika ini adalah platform khusus untuk dokter. Jadi, kalo mau login ke Alomedika harus terverifikasi bahwa (ia) betulan dokter. Verifikasi dengan memasukkan surat tanda registrasi (STR). Jadi harus nomor STR untuk menunjukkan bahwa itu betul-betul dokter,” jelas dr. Alni Magdalena dari Alomedika.

Menurut dr. Alni, Alomedika merupakan platform khusus dokter yang terbesar dan terlengkap. Selain beragam artikel informatif terdapat pula forum-forum diskusi. Forum tersebut menjadi wahana bagi dokter untuk saling bertukar pikiran maupun berbagi pengalaman. Setiap dokter dapat bertanya kepada dokter lain yang lebih berpengalaman. “Ilmu kedokteran itu terus berkembang, jenis penyakit juga. Kalo kita nggak aktif, nggak berdiskusi dengan teman sejawat, kita ketinggalan,” tambahnya.

Menariknya, artikel-artikel yang ada di Alomedika semuanya berbahasa Indonesia sehingga lebih memudahkan dokter untuk memahaminya. Artikel-artikel itu dapat dipilih berdasarkan tindakan medis. Dokter yang ingin mendapatkan SKP secara online lewat Alomedika dapat memilih berdasarkan beberapa kategori. Selanjutnya, dokter harus menjawab 10 pertanyaan.

“Kalo dokter sudah bisa menjawab minimal 7 yang benar dari 10 pertanyaan, itu baru bisa dapat sertifikat. Kalo nggak jawab 7 (yang benar) gimana? Dia akan diulang lagi, diberikan kesempatan 1 x 24 jam untuk mengulang. Jadi dibaca lagi, tes ulang. Jadi benar-benar nggak asal baca, tapi dipahami,” ungkap dr. Alni. Setelah lulus dan mendapatkan SKP, dokter kemudian membawa SKP yang sudah di-download tersebut ke IDI untuk diverifikasi.