Home Tips Financial Tanda-tanda Orang Masuk Golongan BPJS, Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita

Tanda-tanda Orang Masuk Golongan BPJS, Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita

ciri tanda orang konsumtif dampak bahaya kerugian orang jiwa sosialita
Ciri-ciri orang budjet pas-pasan jiwa sosialita | Foto: unsplash.com
ISEEFEST 2019

Highlight.id – Mungkin kalian masih ingat dengan Anniesa Hasibuan, sang bos First Travel yang terjerat kasus penipuan calon jamaah umrah. Bersama suaminya, Andika Surrachman, ia divonis 20 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri (PN) Depok belum lama ini, tepatnya pada tanggal 7 Mei 2018.

Mendengar tuntutan tersebut, Anniesa Hasibuan pun tak bisa menahan tangisnya dan akhirnya meneteskan air mata. Namun, air mata Anniesa Hasibuan sepertinya sudah terlambat dan tak dapat menolong nasibnya yang semakin terpuruk. Padahal, sebelum ditangkap oleh pihak Bareskrim pada tahun 2017, ia merupakan seorang selebriti terkenal.

Saat itu, ia berprofesi sebagai seorang fashion designer muslimah yang memiliki reputasi terpandang. Namanya pun disandingkan dengan deretan desainer fesyen ternama lainnya. Bahkan, karya-karya desain busananya mampu menembus karpet merah di ajang bergensi internasional, New York Couture Fashion Week.

Kemewahan di Balik Kantong Cekak

Kehidupan Anniesa Hasibuan pun sangat glamour. Itu terlihat di akun pribadi Instagram-nya kala yang kerap menunggah dirinya sedang berpose memakai pakaian branded serba mewah dengan latar belakang destinasi wisata luar negeri. Momen-momen Anniesa Hasibuan yang sempat terekam misalnya kala ia berlibur ke Paris, Piramida Mesir hingga menyewa jet pribadi untuk traveling.

Baca juga:

Namun itu semua hanyalah semu dan fatamorgana. Karena kehidupan glamor dan berkelas yang dijalaninya ternyata hasil dari penipuan calon jamaah umroh. Ia pun kini harus menerima kenyataan yang baginya tentu sangat pahit. Sejumlah kekayaannya seperti lima rumah mewah dan satu butik disita oleh negara. Pahitnya lagi, ia harus mendekam di balik jeruji besi dikepung oleh dinginnya dinding penjara. Segala kemewahan yang pernah dinikmatinya pun harus sirna.

Itu hanyalah satu contoh dari sekian banyak kasus lain yang terjadi di sekitar kita, tapi tidak terekspos. Menjalani kehidupan serba mewah dan gaya hidup hedonis demi prestise dan gengsi untuk diterima di kalangan sosialita. Padahal duit yang ia miliki tidak mencukupi untuk membeli semua kemewahan itu.

Fenomena BPJS di Masyarakat

Menghalalkan segala cara untuk merasakan manisnya menjadi kalangan elite merupakan sebuah Fenomena yang marak terjadi belakangan ini. Apalagi di kota-kota besar yang mengharuskan segalanya serba wah dan harus tampil se-perfect mungkin. Hal itu makin diperparah lagi dengan lingkungan sosial dan kehidupan urban perkotaan yang menilai segala hal dari segi materi.

Fenomena yang menggelisahkan itu populer dengan sebutan BPJS alias “budget pas-pasan jiwa sosialita”. Istilah tersebut terdengar sangat pas di telinga untuk menyindir orang yang sebenarnya tak memiliki duit cukup untuk membeli gaya hidup kalangan kelas atas.

Meski uang di kantong pas-pasan, namun mereka tetap nekad dan melakukan segala cara agar dapat membeli barang-barang yang mencerminkan status sosial. Termasuk di antaranya mencari hutangan sana sini yang tanpa disadari akan menjerumuskan pada kesengsaraan.

Bagaimanakah ciri-ciri orang yang masuk golongan BPJS ini? Memahami tanda-tanda BPJS sangatlah perlu agar kamu tidak terjebak pada permasalahan yang malah justru merugikan. Dengan mengenali ciri-ciri yang dijelaskan di bawah ini, semoga kamu bisa terhindar dari segala permasalahan.

Ciri-ciri Orang Golongan BPJS

1. Suka ngutang

Meminjam uang alias ngutang sering dilakukan apalagi jika kamu sedang merasa kepepet, melihat uang di dompet kamu semakin menipis. Pun demikian dengan simpanan saldo di ATM yang semakin berkurang. Di satu sisi kamu merasa enggan untuk berhutang. Namun di sisi lain, obsesi kamu untuk membeli pakaian atau sepatu branded baru yang lagi hype atau nongkrong di restoran mewah yang lagi ngehits mampu mengalahkan segalanya.

Segala cara pun kamu lakukan untuk berhutang, mulai dari pinjam uang ke orang tua, saudara, teman, pacar atau ke bank dengan menggunakan kartu kredit. Jika hal ini dilakukan terus-terusan, maka kamu akan terjebak dalam lingkaran setan berupa hutang yang semakin menumpuk. Dan, kamu pun tak bisa mencari jalan keluar untuk melunasi semua hutang.

2. Pengeluaran melebihi pendapatan

Pepatah mengatakan, “Besar pasak daripada tiang”. Hal ini berlaku bagi kaum golongan BPJS. Mereka lebih mementingkan tampilan “casing”-nya saja seperti produk fashion branded yang original meski ia sebetulnya belum mampu untuk membeli. Padahal, ada banyak kebutuhan lainnya yang lebih utama.

ciri tanda orang konsumtif dampak bahaya kerugian orang jiwa sosialita
Ciri-ciri orang budjet pas-pasan jiwa sosialita | Foto: unsplash.com

Pendapatan yang pas-pasan semestinya bisa diakali jika gaya hidup kamu sederhana dan tidak neko-neko. Seperti makan secukupnya di warung pinggir jalan atau membeli baju yang murah di pasar. Namun, tidak demikian halnya dengan kaum BPJS yang tak memikirkan pendapatan yang dimilikinya asal barang yang diimpikannya bisa terbeli.

3. Mengutamakan prestise dan gengsi

Kamu berpikir bahwa memakai pakaian merek lokal itu nggak keren. Kalo beli pakaian, ya harus yang branded dan belinya pun di mall, bukan di pasar. Tak bisa dipungkiri, sebagian orang terutama sosialita menganggap bahwa produk-produk yang dikenakannya merupakan kebanggaan dan cerminan dari status sosial.

Mereka rela menghambur-hamburkan ratusan hingga ribuan dolar hanya demi sebuah tas atau sepatu. Namun bagi mereka, jumlah nominal uang itu tidaklah penting asal orang menganggap mereka sebagai kalangan elite yang harus dihormati.

4. Terobsesi pada barang branded

Produk-produk bermerek apalagi produksi luar negeri yang diimpor dan dijual di mall-mall memang menggoda bagi orang untuk membelinya. Apalagi modelnya yang selalu baru dan bagus-bagus. Ditambah lagi, kamu sering mantengin akun medsos online shop dan mengecek barang baru di online store. Dalam hati kamu berpikir untuk membeli sekarang juga karena jika ditunda maka barang yang diincarnya akan habis terjual dibeli orang.

Nah, jika memiliki pemikiran seperti itu maka kamu harus lebih waspada dan secepatnya menahan diri. Ingat, bahwa baju baru yang ingin kamu beli tidak benar-benar kamu butuhkan. Masih banyak pakaian yang tersimpan di lemari yang masih dalam kondisi bagus dan layak pakai.

5. Tak mampu mengelola keuangan

Boro-boro nabung sebagai investasi di masa depan. Hutang kamu saat ini semakin menumpuk tak terkendali. Kamu meminjam uang hanya untuk membayar hutang lainnya. Akibatnya, uang kamu menjadi minus alias bangkrut dan jerat hutang membuat leher kamu semakin tercekik.

Rencana pengeluaran bulanan pun tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Padahal, jika kamu bisa sedikit menahan diri, akan ada waktunya kamu bisa membeli apa yang diinginkan.

6. Tidak memikirkan masa depan

Kamu lebih mementingkan kehidupan hari ini, bersenang-senang dan foya-foya di tempat tongkrongan. Membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan atau mengonsumsi makanan dan minuman yang berlebihan.

Buat kamu, yang penting hari ini bahagia, namun tidak tahu apakah besok kamu masih merasakan kebahagiaan yang serupa. Alih-alih jadi orang kaya, kamu berisiko terjerumus dalam jurang kemiskinan.

7. Iri dengan apa yang dimiliki orang lain

Teman kamu di media sosial mem-posting dirinya sedang narsis mengenakan produk baru, atau makan di restoran yang mewah. Atau.. sedang asyik-asyiknya plesiran ke tempat-tempat wisata ngehits. Namun bukannya ikut senang, kamu malah justru dihinggapi rasa iri. Dan kamu pun mulai berpikir, kenapa ia bisa bersenang-senang kelihatan bahagia sementara aku tidak bisa?

Rasa iri memang penyakit yang membuat orang sering lupa diri dan gelap mata. Kamu pun tidak mau kalah dan merasa harus lebih hebat dari semua teman-teman kamu, memakai pakaian serba mewah, berkunjung ke tempat-tempat paling ngetop. Lalu memamerkannya ke media sosial.

Jiwa sosialita yang tak diimbangi dengan daya finansial yang memadai tentu akan menimbulkan permasalahan yang sulit untuk dicari solusinya. Oleh karenanya, lebih baik kita mensyukuri saja apa yang kita miliki hari ini dan membiarkan orang lain bahagia dengan kehidupannya. Karena setiap orang memiliki kebahagiaannya masing-masing tanpa harus memamerkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here