Home Arts Tekad Mudrika Paradise Meneruskan Bisnis Batik Keluarga

Tekad Mudrika Paradise Meneruskan Bisnis Batik Keluarga

Mudrika Paradise | Foto: Dok. Pribadi

Highlight.ID – Berlokasi di bilangan Kotagede, Yogyakarta, Batik Paradise yang didirikan oleh Kaelesha Afiati telah eksis sejak tahun 1983. Waktu itu masih bernama Paradise karena hanya memproduksi embordir dan belum fokus pada produk-produk batik. Selanjutnya, Paradise mulai menjual aneka ragam kebaya yang ngetren di tahun 90-an. Pakaian kebaya umumnya dipadupadankan dengan kain sarung batik sebagai bawahan.

Seiring berjalannya waktu, Paradise fokus pada produksi ragam pakaian batik sejak tahun 2000. Sampai sekarang, Paradise Batik masih menjual aneka produk embordir namun hanya sebagai pelengkap. Beragam busana batik untuk wanita dan pria dengan teknik batik tulis dan batik cap tersedia di Paradise Batik. Tak hanya di kota Yogyakarta, Paradise Batik juga memiliki butik yang berada di Semarang dan Malang.

Batik Kontemporer

Mudrika Almuna atau lebih dikenal dengan Mudrika Paradise ketika ditemui Highlight.ID di tokonya mengatakan, “Batiknya itu kita memang enggak pakem. Beberapa, (batik) capnya sudah modern, meskipun ada cap-cap pengembangan dari cap yang pakem tapi kita kemas semua motifnya lebih ke kontemporer. Terus, dominan batik tulis. Meskipun ada yang cap, kita kombinasikan dengan tulis.”

Menurut Mudrika Paradise yang tak lain adalah anak dari Kaelesha Afiati, Paradise Batik mengemas pakaian batik dengan tampilan yang lebih internasional. Meskipun Paradise Batik juga menyediakan batik klasik, namun yang menjadi produk unggulan yakni batik kontemporer. Paradise Batik hanya menawarkan busana batik yang prosesnya dikerjakan dengan tangan (handmade) dan menggunakan malam.

Baca juga:

Proses pembuatan batik mulai dari sketsa hingga menjadi pakaian jadi tergantung jumlah warna yang digunakan dan desain motif batiknya. Lama proses pembuatan batik berkisar antara satu minggu hingga satu bulan. “Kalo satu warna aja cepet, satu minggu untuk proses itu bisa. Tapi kalo sudah banyak warna kemudian prosesnya berkali-kali, motif ditumpuk-tumpuk bisa (selesai) satu bulan,” jelas Mudrika yang memiliki nama akrab Rika.

Faktor lain yang mempengaruhi durasi proses pembuatan yakni cuaca karena pengeringan batik memanfaatkan cahaya matahari. Jika cuaca hujan atau mendung maka prosesnya menjadi lebih lama. Sebaliknya, jika cuaca panas, maka prosesnya dapat selesai lebih cepat.

Dengan warna-warna yang berkesan tropis dan cerah, Paradise Batik banyak menampilkan motif-motif geometris yang berkesan elegan, menyesuaikan dengan target market-nya. Paradise Batik memproduksi kain maupun pakaian batik dengan jumlah yang terbatas. Dengan demikian, produk-produk Paradise Batik mempunyai nilai eksklusivitas tersendiri.

“Misal kita punya kain batik 50 (lembar), tapi kita bikin 2 model (pakaian). Jadi 2 model itu sangat limited, 25 sampai 30 pakaian aja, satu desain. Itu sudah disebar ke cabang. Jadi masing-masing cabang, dapat 10 (pakaian) per style/motif, itu berbeda-beda warna. Jadi, kita mencoba setiap hari ada style yang baru, meskipun cuma satu. Targetnya seminggu ada enam desain yang baru,” ungkap wanita kelahiran Yogyakarta, 7 Juni 1986 ini.

Karya Mudrika Paradise | Foto: mudrikaparadise.com

Ia mengatakan bahwa Paradise Batik terbilang jarang melakukan restock pada produk-produk yang telah habis terjual. “Karena kalo sering melakukan restock, pelanggannya bosen. Karena produk kita rame semua. Jadi, pelanggan cari yang motifnya belum ada, selalu minta yang baru,” jelasnya.

Pelanggan Paradise Batik di Yogyakarta umumnya menyukai motif-motif batik yang cenderung ‘ramai’, banyak menampilkan detail motif dan warna. “Karena orang-orang Jogja udah tahu batik. Jadi, semakin sulit prosesnya, semakin disukai.”

Selain brand Paradise Batik, ada juga label Anggun by Paradise. Bedanya, Anggun by Paradise menjual aneka macam produk batik dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian merupakan produk sendiri dan sebagian lagi berasal dari beberapa perajin. Sementara, koleksi Paradise Batik yang umumnya menggunakan bahan sutera filamen dan katun semuanya merupakan produksi sendiri.

Generasi Kedua

Sebagai generasi kedua yang menjalankan bisnis milik keluarga, Mudrika Paradise ingin memperdalam lebih jauh tentang dunia fashion. Setelah menamatkan kuliah di Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Mudrika meneruskan pendidikan di ESMOD yang kampusnya berada di Jakarta.

Karya Mudrika Paradise | Foto: mudrikaparadise.com

“Setelah itu, tahun 2008, saya terjun ke bisnis keluarga ini bareng 2 kakak saya. Jadi 3 orang, di mana (generasi) yang pertama itu ibu saya sendiri sebagai founder-nya,” ungkap Rika. Menurutnya, antara bidang arsitektur dengan fashion design masih memiliki keterkaitan. Dengan demikian, ia merasa mempunyai landasan yang kuat dalam berkarya.

Mudrika Paradise yang merupakan anggota Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Yogyakarta berupaya agar karyanya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya inovasi dalam berkarya. “Kita terus ‘berlari’ untuk (melakukan) inovasi. Sering-sering melihat perkembangan pattern baik di luar negeri maupun dalam negeri,” kata dia.

Melakoni profesinya sebagai fashion designer, Mudrika Paradise pernah tampil di beberapa ajang bergengsi seperti Jogja Fashion Week dan Jogja International Batik Biennale (JIBB). Pada IFC Jogja Fashion Trend 2019/2020 di ajang JIBB 2018, Mudrika menampilkan koleksi bertajuk “Dynamic”. Koleksinya yang berwarna dingin, pucat, dan pastel itu menampilkan batik kawung dan batik tulis pengembangan motif kawung. Dengan garis repetitif yang memberikan kesan tumbuh dan berkembang, koleksi tersebut menggunakan bahan sutera yang diperuntukkan untuk busana muslim cocktail/evening.

Selain itu, ia pernah mengeluarkan koleksi bertema “Mozaic (Tile Envy)” yang terinspirasi dari suasana nostalgia, dilihat dari kacamata millenium ketiga. Pada koleksinya, Rika mengangkat motif tegel kunci yang dahulu sering dipakai untuk penutup lantai lalu diaplikasikan ke dalam motif batik. Motif tegel kunci ia kombinasikan dengan motif-motif lain sehingga terlihat lebih segar. Koleksi tersebut sebagian besar dibuat dengan batik tulis, sekitar 90 persen, dan sisanya batik cap.

Baca juga:

Koleksi Mudrika lainnya bertema “Timurid Dinasty” yang mengambil ide dari pengaruh seni kaligrafi dan arsitektur pada masa dinasti Timurid. Desain batik menampilkan motif geometris dan symmetry axial yang menjadi ciri khas arsitektur pada zaman itu. Lewat tangan terampilnya, Mudrika mengaplikasikan motif-motif tersebut ke dalam batik tulis dengan tampilan lebih kekinian.

Tips Merawat Batik

Di sela-sela pembicaraan, Rika mengungkapkan tips-tips agar pakaian batik lebih tahan lama. “Batik (yang) awet itu sebenarnya lebih ke pemakaian dan perawatan. Pencuciannya juga harus diperhatikan, tidak boleh memakai mesin cuci, enggak pake deterjen. Pake lerak itu lebih baik,” jelasnya.

Lerak itu sendiri merupakan tumbuhan yang bijinya dikenal sebagai deterjen tradisional. Manfaat lerak yaitu untuk menjaga kualitas warna batik. Rika menuturkan, “Ada yang nggak pake apa-apa (juga) bisa. Kalo batik itu sebenarnya nggak perlu deterjen. Jadi cukup dicuci, dibilas kemudian dijemur. Dijemur pun cuman diangin-anginin, enggak boleh di bawah sinar matahari.”

Jika tetap mencuci batik dengan deterjen dan menjemurnya di bawah sinar matahari, maka dikhawatirkan warna pakaian batik akan menjadi pudar. Efek lainnya, kain batik akan menjadi rusak. Oleh karena itu, perawatan yang benar harus menjadi perhatian agar pakaian batik tetap awet.