Home Arts Teknik-teknik Dasar Public Speaking yang Harus Kamu Kuasai

Teknik-teknik Dasar Public Speaking yang Harus Kamu Kuasai

Teknik-teknik dasar public speaking agar bisa lancar berbicara di depan orang tanpa rasa grogi
Ilustrasi mikrofon | Foto; Unsplash

Highlight.ID – Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berinteraksi dengan sesamanya dalam setiap aspek kehidupan, baik di lingkungan keluarga, sekolah/kampus, kantor maupun masyarakat. Faktor penting dalam menunjang keberhasilan dalam menjalin hubungan dengan orang lain salah satunya yakni keterampilan berbicara (public speaking).

Tak hanya dibutuhkan oleh orang-orang yang sering berbicara di depan umum, public speaking pada dasarnya dibutuhkan oleh siapapun tanpa memandang latar belakang profesinya. Bahkan, ibu rumah tangga membutuhkan kemampuan public speaking yang dapat diterapkan dalam keluarga untuk membina kehidupan rumah tangga yang lebih baik dan harmonis.



Tujuan Public Speaking

Ranny Albanny, Public Speaking Trainer dari Public Speaking Jogja by Microphonia menerangkan bahwa public speaking merupakan proses berbicara kepada seseorang atau lebih untuk menginformasikan, mempengaruhi, dan menghibur. Menurut dia, banyak orang yang dapat menginformasikan pesan maupun mempengaruhi orang lain namun belum tentu dapat memberikan hiburan.

“Punya skill berbicara itu penting karena kaitannya hubungan kita sebagai makhluk sosial dengan orang lain. Apapun profesinya, di belakang layar pun ketika berinteraksi dengan (orang) sebelahnya itu butuh komunikasi,” ucap Ranny kepada Highlight.ID. Banyak kejadian di mana orang yang bekerja di kantor tak dapat membina hubungan baik dengan rekan kerja karena kurangnya keterampilan berkomunikasi.

Baca juga:

Kebanyakan masyarakat awam menganggap public speaking adalah seperti halnya master of ceremony (MC) atau presenter yang berada di depan kamera. “Dalam hidup, communication skill itu penting. Dan bagian terpenting dari communication skill itu public speaking. Kalo cara ngomongnya aja nggak benar, komunikasinya pasti nggak benar. Publik harus tahu bahwa berbicara adalah kunci sukses untuk dia bisa diterima di manapun,” papar dia.

Memahami Tipe-tipe Audiens

Ranny mengibaratkan berbicara kepada audiens seperti memancing ikan. Orang yang memancing ikan pasti akan mengenali jenis makanan yang menjadi kesukaan ikan. Setiap jenis ikan memiliki makanan kesukaannya masing-masing. “Sama dengan berbicara, harus ngerti audiensnya itu tipe apa. Dia siapa, haus akan ilmu apa? Apa sih yang dia mau dari kelas saya? Dari situlah porsinya akan lebih dominan mana, sesuai dengan kebutuhan audiens,” jelas wanita kelahiran Bantul, 22 Juni 1982 ini.

Audiens yang berusia muda tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan orang yang lebih dewasa misalnya. Untuk itu, public speaker harus bisa menyesuaikan gaya berbicaranya dengan audiens. Caranya yakni dengan mempelajari dan memahami apa yang menjadi selera atau kesukaan mereka.

“Audiens itu ada tiga macam. Satu, tipikal visual, dia itu matanya lebih banyak kerja. Dia suka dengan apapun yang dia lihat. Misalnya lihat gambar, video, slide, warna, itu dia suka. Yang kedua, tipe auditori, telinganya dia yang kerja. Ada audiens yang dia diam terus dari awal sampai akhir, bisa jadi dia telinganya yang kerja. Yang ketiga, tipe kinestetik, dia senang dengan gerakan, sentuhan, kedekatan, rasa,” jelas Ranny yang merupakan lulusan Kearsipan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Teknik-teknik dasar public speaking agar bisa lancar berbicara di depan orang tanpa rasa grogi
Ranny Albanny (Public Speaking Trainer) | Foto: Dok. Pribadi

Dalam sebuah kelas/pertemuan, Ranny mengaku tidak bisa mengidentifikasi tipe setiap audiens satu per satu. “Caranya gimana? Ya, ketiganya (tipe audiens) saya manjain. Yang visual, saya manjain dengan slide (presentasi) saya yang berwarna dan lebih banyak gambar. Tulisan dalam satu slide itu paling 2 kata, kata kunci aja sebagai guidance biar aku nggak nge-blank.”

Selain itu, Ranny juga memperhatikan fashion atau pakaian yang dikenakannya ketika melakukan presentasi. “Saya lebih suka ketika on stage, saya suka memakai sesuatu yang warna-warna jreng (cerah). Kenapa? Karena orang visual, hal seperti itu meski tidak terucap tapi di psikologis mereka akan masuk.”

“Kemudian, untuk audiens yang tipe auditori, saya lebih banyak bercerita, main intonasi. Vokalnya lebih dimainkan lah. Ketika mengisi pelatihan, kita kasih instrumen. Orang auditori akan senang, biar nggak ngantuk juga, suasanya lebih asyik. Edutainment, meng-combine antara edukasi dan entertainment,” tambahnya.

Selanjutnya, Ranny menambahkan, “Terus untuk orang kinestetik saya lebih banyak memainkan games. Saya akan berjalan, jadi ketika ngajar saya akan masuk ke (area) audiens karena mereka akan senang. Diajak yel-yel, dikasih games, challenge, praktik.”

Menurut wanita yang hobi traveling ini, pembicara harus mampu memperhatikan dan mengakomodasi kesukaan ketiga tipe audiens tersebut. Jika tidak seimbang, maka akan ada audiens yang merasa dianaktirikan.


Pentingnya Menghibur Audiens

“Banyak public speaker, dia jago ngomong tapi dia gagal untuk meng-entertaint. Akhirnya, dia ngomong banyak hal tapi audiens ngederinnya kayak nggak enak, nggak nyaman banget,” kata Ranny. Berdasarkan pengamatannya, banyak pembicara yang mempunyai keahlian maupun kompetensi ketika menyampaikan materi, audiensnya malah tidak menyimak dan asyik dengan gadget-nya sendiri.

Ketidakmampuan untuk menghibur audiens merupakan salah satu kesalahan pembicara yang sering dilakukan. “Tetapi (how to) entertaint itu bagi saya bukan sekadar dia bisa membuat jokes atau lelucon, bukan. How to entertaint, saya pikir lebih bagaimana membawa audiens itu merasa nyaman di sesi itu. Nyaman ini bisa dari banyak hal, dari (aspek) kedekatan, interaksi, (dengan) eye contact,” ujarnya.

“Banyak pembicara yang lupa eye contact. Dia ngajarnya, presentasinya duduk di depan laptop. Dia lupa kalo di depannya banyak manusia yang butuh diinteraksi,” lanjut Ranny. Kejadian yang sering terlihat, pembicara terlalu fokus pada materi presentasi yang ada di layar. Parahnya lagi, huruf-huruf yang ada di materi presentasi ukurannya kecil sehingga hampir atau bahkan tak terbaca audiens.

“Ini bukan presentasi menurut saya. Ini membaca bersama. Audiens dipaksa untuk membaca naskah yang sebegitu banyak,” katanya. Lalu, pembicara biasanya menanyakan kepada audiens apakah mereka paham. Umumnya, audiens terpaksa menjawab: “Paham”, padahal sebenarnya belum tentu memahami.


Sebagai pembicara yang sering mengisi pelatihan/workshop public speaking, Ranny mengaku lebih suka membaca buku atau browsing di internet untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan hingga menambah kosakata baru. Selain itu, Ranny juga gemar menonton stand up comedy untuk mengetahui bagaimana cara menghibur audiens. Hiburan dalam sebuah sesi pertemuan sangat penting sebagai cara untuk memecah suasana (ice breaking) supaya audiens tidak terlalu tegang dan serius.

Keberhasilan Public Speaking

Dalam pengamatan Ranny, banyak pembicara yang membawakan presentasi karena sebatas melakukan kewajiban semata. Pada akhirnya, closing deal atau penyataan penutup tidak jelas dan cenderung mengambang. Apabila hal ini terjadi pada saat kegiatan pemasaran, maka dia akan kehilangan momen terjadinya transaksi penjualan. “Dia selesai mengerjakan tugasnya presentasi tapi dia nggak bisa meng-influence, nggak bisa men-entertaint, ya akhirnya selesai tanpa deal,” imbuhnya.

Ranny menuturkan, “Berbicara itu bukan sekadar merangkai kata dalam sebuah kalimat. Berbicara itu lebih kepada bagaimana kita menyampaikan sebuah nilai (value), pesan dari pembicara kepada audiens. Artinya apa? Ketika kita berbicara badan kita ikut ‘bicara’. Dari ujung kepala sampai ujung kaki itu ikut ‘ngomong’.

Faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan public speaking yakni gerakan atau gestur tubuh (body language). Selain itu, intonasi berbicara juga lebih berpengaruh dibandingkan kata-kata yang diucapkan. Kenyatannya, banyak orang yang sebelum tampil di depan audiens malah cenderung memlih menghafal materi yang ingin disampaikan.

“Banyak orang presentasi di depan audiens, mereka hanya ngomong, pegangn mic, kaki dan tangannya kaku, ekspresi dan intonasinya juga flat,” kata dia. Akibatnya, pembicara mengabaikan gestur tubuh dan intonasi. Untuk itu, membangun mental dan kepercayaan diri merupakan langkah pertama agar bisa sukses dalam public speaking.

Baca juga:

Mengatasi Grogi

Ranny menuturkan bahwa berbicara di depan audiens tidaklah sesulit yang dipikirkan. Satu hal yang membuat sulit adalah pikiran negatif. Ia mencontohkan bagaimana seseorang mempunyai daya improvisasi yang tinggi ketika berbicara dengan teman dekat yang telah lama dikenalnya. “Karena sudah merasa nyaman. Beda (saat) ketemu dengan orang asing. Gimana mau memulainya, itu kadang bingung, nervous,” katanya.

Ketika melihat audiens kita berpikir negatif maka yang terjadi adalah hal-hal yang negatif. Akibatnya, orang akan cenderung melakukan analisis berlebihan yang sebenarnya sama sekali tidak penting. “Ketika otak kita sudah tertutup oleh pikiran-pikiran negatif, yang terjadi, respon tubuh juga akan negatif. Gemetaran, keluar keringat. Tiba-tiba otak juga akan nge-blank. Itu reaksi spontan dari tubuh, perutnya mules atau apalah,” ungkapnya.

Orang yang measa grogi dan tidak lancar berbicara di depan orang karena menganggap mereka, terutama yang tidak dikenal sebelumnya, sebagai ancaman. Hal itu merupakan respon spontan dari otak reptil yang berfungsi mengatur gerak reflek dan keseimbangan tubuh manusia. Otak reptil inilah yang memerintahkan kita untuk bergerak dan aktif pada saat kita merasa takut, stress atau terancam.

Oleh karena itu, selalu berpikir positif dalam kondisi apapun akan dapat mengatasi hambatan seperti grogi atau demam panggung. Selain itu, membiasakan diri untuk selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang lain baik yang dikenal maupun tidak dalam kondisi apapun merupakan cara agar kita siap tampil di depan audiens.

Ranny berujar, “Kalo ini sudah sering kita lakukan sebagai daily habit kita, maka otak kita akan terbiasa menerima orang asing. Kadar ancaman di otak akan menurun. Akhirnya apa? Nanti suatu ketika berdiri di depan publik dihadapkan dengan audiens, manusia jenis apapun, Insya Allah otak kita sudah terbiasa.”