Home Arts Teknik Ecoprint Hasilkan Kain Bermotif yang Alami dan Ramah Lingkungan

Teknik Ecoprint Hasilkan Kain Bermotif yang Alami dan Ramah Lingkungan

Ecoprint merupakan teknik pembuatan pola dan motif pada kain yang ramah lingkungan
Teknik ecoprint yang ramah lingkungan | Foto: Highlight.ID

Highlight.ID – Potongan kain dengan corak dedaunan yang beragam dan warna-warna alami, itulah ecoprint. Teknik mereplika aneka jenis daun-daunan maupun tumbuhan ke permukaan kain menjadi tren yang berkembang di dunia mode beberapa tahun belakangan ini. Ecoprint menjadi pilihan karena menawarkan motif-motif unik yang tak ada duanya. Artinya, setiap lembaran kain ecoprint mempunyai pola dan warna yang selalu berbeda.

Memanfaatkan daun-daunan yang ada di sekitar, proses pembuatan ecoprint tergolong sederhana. Meskipun demikian, pembuatan ecoprint membutuhkan keterampilan tersendiri agar hasilnya memuaskan. Peralatan yang digunakan dalam pembuatan ecoprint pun bisa didapatkan dengan mudah seperti plastik sebagai alas, kain berupa katun atau sutera, dan wadah atau ember serta alat pengukus untuk pengukusan kain.




Belajar Ecoprint

Prita Dewi merupakan seorang perajin ecoprint yang tinggal di Sambiroto, Rt.2/Rw.1 Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Di tempat tinggalnya itulah, Prita memproduksi kain ecoprint yang siap dijual ke pasaran sejak tahun 2017 hingga sekarang. “Ketika itu ada permintaan produk yang menggunakan limbah alam. Kemudian saya searching di Google (tentang) limbah alam yang kira-kira sama dengan permintaan customer. Dia minta hiasan dinding waktu itu,” jelas Prita kepada Highlight.ID.

Setelah menelusuri informasi di internet, Prita menemukan materi tentang ecoprint. Lewat materi-materi tentang ecoprint yang sebagian besar dari YouTube, Prita pun mempelajari dan mempraktikkan ecoprint sendiri. Setelah melakukan berbagai macam uji coba, akhirnya Prita berhasil membuat kain bermotif dengan teknik ecoprint. Upaya Prita untuk melakukan serangkaian uji coba ecoprint memakan waktu sekitar 6 bulan.

Baca Juga: Koleksi Shafira Terbaru Bertajuk “Tree of Life” yang Ramah Lingkungan





Selama melakukan uji coba, Prita mengaku menemukan banyak kendala. “Waktu awal-awal kita nggak tahu jenis daun yang digunakan apa, jenis kain yang bagus untuk ecoprint apa, pewarna alamnya juga seperti apa. Dari kita mempraktikkan, baca, dan bertanya kepada senior ecoprint di Jogja juga ada kan,” ujar perempuan kelahiran Solo ini.

Berburu Dedaunan

Setelah mengumpulkan berbagai informasi, Prita baru mengetahui bahwa tidak semua jenis daun bisa dipakai untuk ecoprint. “Jenis daun yang dipakai untuk ecoprint mempunyai ketebalan tertentu, tidak terlalu tipis, tidak terlalu tebal, dan bentuk permukaannya tidak licin. Untuk ecoprint sendiri, setelah saya pelajari sekian lama, saya hanya menentukan beberapa macam daun. Jadi tidak semua daun saya pakai,” tambahnya.

Jenis-jenis daun yang dipakai Prita untuk membuat ecoprint di antaranya yakni daun jati yang masih muda dan berwarna merah. Selain itu, Prita memilih daun kayu afrika, daun lanang/pongporang, daun jarak, dan rumput-rumputan. “Khusus untuk daun jati itu harus yang muda dan daun yang lainnya harus yang tua. Makanya kenapa saya lebih senang ketika daun itu sudah jatuh. Limbahnya yang saya gunakan,” kata Prita.

Baca Juga: HIJUP dan Tencel Rilis Busana Muslim yang Ramah Lingkungan

Ecoprint merupakan teknik pembuatan pola dan motif pada kain yang ramah lingkungan
Proses pembuatan ecoprint | Foto: Dok. Pribadi

Ia mencari daun-daunan secara tak terencana (random) di sekitar wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Kebetulan, Prita mempunyai beberapa teman yang mempunyai kebun dan mempersilakan dia untuk mengambil dedaunan yang berserakan secukupnya. Setelah daun-daun terkumpul, Prita membawa pulang dan menyimpannya untuk dijadikan bahan pembuatan ecoprint.

Ketika awal-awal mempelajari ecoprint, Prita belum tahu bentuk-bentuk dedaunan. Ia juga belum tahu cara penyimpanan daun yang benar sehingga banyak daun-daun yang disimpan di dalam plastik malah berjamur. Menurut dia, dedaunan yang berjamur tidak bisa dipakai untuk membuat ecoprint karena akan mengurangi kualitasnya.

“Setelah berjalannya waktu, saya pelajari, ternyata (dedaunan) bisa disimpan di freezer. Daun yang sudah saya ambil, saya bersihkan, dimasukkan kantong plastik kemudian vakum, baru dimasukkan ke freezer,” jelas lulusan Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini. Dedaunan yang disimpan di freezer tersebut bisa awet hingga 6 bulan.



Baca Juga: Gandeng Desainer, Asia Pacific Rayon Kenalkan Viscose yang Ramah Lingkungan

Seperti halnya batik tulis, pewarnaan kain ecoprint menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu-kayuan, daun-daunan atau biji-bijian. Satu hal yang mempengaruhi perbedaan warna yakni tanin atau senyawa yang keluar dari daun. “Setiap daun itu mengeluarkan warna yang berbeda-beda dan tidak bisa sama antara satu daun dengan yang lain. Jadi ketika ada pesanan, tidak bisa memastikan jenis daun yang sama, akan mengeluarkan hasil yang sama. Jadi istilahnya semacam abstrak gitu, ya,” katanya.

Tahapan Pembuatan Ecoprint

Kain yang digunakan untuk membuat ecoprint yakni katun dan sutera yang berasal dari serat alam. Proses pembuatan ecoprint dimulai dengan pre-mordanting yaitu perendaman kain selama sekitar 1 jam dengan larutan tertentu yang fungsinya untuk menghilangkan efek kimia. “Kemudian kita rebus kain itu, didiamkan semalam. Kemudian dikeringkan. Setelah kering (kainnya), kita siap untuk menggunakan (teknik) ecoprint,” jelas Prita.

Lebih lanjut Prita menerangkan, “Setelah kain diproses, yang kita butuhkan itu plastik untuk alas kain kemudian kain kita gelar juga. Daun yang sudah disiapkan, ditata sesuai kebutuhan. Misalnya customer pengin daun yang kecil-kecil, besar-besar, atau daunnya cuman 3 biji dalam satu lembar, menyesuaikan kebutuhan customer. Setelah kita tata daunnya, kita alasi lagi dengan plastik. Atas-bawah, kain itu ada plastiknya.”

Baca Juga: Viro, Pembuat Material Eco Faux Berekspansi ke Dunia Fesyen

Ecoprint merupakan teknik pembuatan pola dan motif pada kain yang ramah lingkungan
Proses pembuatan ecoprint | Foto: Dok. Pribadi

Kain tersebut kemudian digulung, lalu diikat, kemudian dikukus selama kurang lebih 2 jam. Setelah itu, gulungan kain yang telah dikukus tersebut dibuka dan diangin-anginkan serta tidak boleh terkena sinar matahari langsung supaya warnanya lebih kuat. Kain tersebut lalu didiamkan selama 5 hari hingga seminggu agar daunnya lebih kuat menempel di kain.

“Setelah itu, baru proses akhir (yakni) fiksasi untuk mengunci pewarna alamnya tadi. Untuk fiksasi membutuhkan larutan tertentu. Bisa cuka, tawas, tunjung, sesuai kebutuhan. Masing-masing larutan itu akan menghasilkan warna sendiri. Setelah proses fiksasi, kita bilas kainnya, kita jemur lagi, diangin-anginkan lagi. Setelah kering, baru siap untuk digunakan,” jelasnya. Proses pembuatan ecoprint mulai dari awal hingga akhir memakan waktu sekira 10 hari.

Prita biasa menggunakan kain dengan lebar sekitar 1,5 meter dan panjang 3 meter. Meskipun demikian, lebar kain itu sendiri sebenarnya tidak memiliki batasan tertentu. Semakin panjang kain yang dipakai, maka semakin besar alat pengukusan yang dibutuhkan.

Baca Juga: Upcycling Fashion Tinkerlust.com Bertajuk “A Story of Second Chances”

Semua Laku

Awal-awal membuat ecoprint, Prita merasa hasilnya kurang maksimal. “Hasilnya kok sangat jauh dari ekspektasi saya. Tapi ketika ada konsumen datang, dia menyenangi kain itu dan beli. Oh ternyata, apa yang saya pikirkan, beda dengan yang orang pikirkan. Dan itu terjadi beberapa kali. Menurut saya (ecoprint) ini gagal, ternyata laku,” ungkap dia.

Berdasarkan pengalaman itu, Prita mempunyai pendapat bahwa tidak ada produk gagal dalam ecoprint. Kain ecoprint yang sudah jadi dijual oleh Prita seharga mulai dari Rp200 ribu hingga Rp1 juta per lembarnya. Perbedaan harga tergantung pada jenis kain dan jenis daun yang dipakai serta proses pembuatannya. Dalam sehari, Prita bisa memproduksi hingga 20 lembar kain ecoprint.

Kain ecoprint, menurut Prita, mempunyai pasar tersendiri yang tak hanya bisa diolah menjadi aneka ragam busana tapi juga pernak pernik fesyen hingga hiasan rumah (home decor). Bagi Prita, membuat ecoprint tak hanya sebatas pada bisnis semata tapi juga sebagai sarana refreshing yang menyenangkan.

Setelah berhasil membuat kain bermotif dengan teknik ecoprint, Prita pun lantas mengembangkan usahanya dengan membuka workshop. Workshop yang kapasitas orangnya tergantung permintaan diperuntukkan bagi mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum dengan harga yang bervariasi.