Home Arts Mau Jadi Fashion Stylist Profesional? Pahami Dulu Cakupan dan Cara Kerjanya

Mau Jadi Fashion Stylist Profesional? Pahami Dulu Cakupan dan Cara Kerjanya

Cara memulai karier profesi pekerjaan fashion stylist profesional Indonesia dan ruang lingkup pekerjaannya
Ilustrasi butik fesyen | Foto: Unsplash/Ardalan hamedani

Highlight.ID – Di balik penampilan gemerlap para selebriti terkenal, ada fashion stylist yang bekerja memadupadankan pakaian sekaligus membentuk image mereka. Namun seringkali, peran fashion stylist belum begitu dimengerti oleh sebagian orang. Masyarakat juga belum memberikan apresiasi sepenuhnya kepada fashion stylist layaknya profesi yang lain.

“Sekarang kalo aku lihat, beberapa tahun terakhir ini semua orang apalagi masyarakat kota udah lumayan ngerti fashion stylist itu apa. Cuman memang apresiasinya belum kayak seperti makeup artist, hairstylist, fotografer atau desainer. Karena kita benar-benar orang (bekerja di) belakang layar yang belum 100 persen orang ngerti fungsinya apa,” kata Agnes Stephanie Cathykana atau lebih dikenal dengan Vannie Astecat kepada Highlight.ID.

Vannie Astecat adalah fashion stylist yang pernah menangani para artis terkenal Ibu Kota di antaranya yakni Bunga Citra Lestari (BCL), Rossa, Isyana Sarasvati, Nindy Ayunda, dan lainnya. Bagi Vannie, fashion stylist bisa menjadi pilihan pekerjaan karena menawarkan prospek yang bagus. “Menurut aku ini profesi yang mempunyai prospek yang lumayan menjanjikan juga sih. Toh buktinya, aku bisa menghidupi 2 anak,” ujarnya.

Peran fashion stylist sangat dibutuhkan terutama oleh public figure seperti selebriti karena mereka mempunyai jadwal yang sangat padat dan tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurusi penampilannya sendiri. “Kalo mereka harus mikirin semuanya sendiri, nggak akan bagus juga. Fokusnya sudah harus ke perkejaan mereka. Waktunya juga nggak punya. Mereka mengandalkan orang-orang yang bergerak di profesinya masing-masing,” terangnya.

Baca juga:

Selama menjadi fashion stylist, proyek yang paling mengesankan bagi Vannie yakni saat konser BCL. “Satu, aku pertama kali ngerjakan (styling untuk) konser. Kedua, kita bekerja sama dengan Creative Director dari luar yang biasa bikin buat musisi-musisi di luar (negeri) sana. Selain tantangannya sangat berat, kita juga belajar banget. Dan itu benar-benar mengesankan banget, sih,” cerita dia.

Citra Diri

Dalam pandangannya, semakin banyak orang yang menilai bahwa penampilan itu sangat lah penting. Berdasarkan pengalaman dia, klien yang menggunakan jasanya tak terbatas pada selebriti tapi juga para pebisnis ataupun orang kantoran. Penampilan dapat memengaruhi citra diri seseorang di mata orang lain. Apabila ada orang yang pintar dan cerdas sekalipun tapi penampilannya kurang mendukung, maka dia akan cenderung dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Tak hanya sebatas memadupadankan antara produk fesyen satu dengan yang lainnya, fashion stylist juga berperan dalam membentuk citra diri seseorang. “Tanggung jawabku itu membentuk penampilan seseorang yang sesuai dengan market. Mau dianggap manis, seksi, elegan, itu tugasnya fashion stylist. Dan fashion stylist bukan hanya nyariin baju tapi kita mengonsepkan the whole image-nya si selebriti atau personal ini,” imbuhnya.

Citra diri bisa dibentuk sesuai keinginan lewat pakaian, potongan rambut, atau tampilan makeup. Selain pakaian atau penampilan itu sendiri, faktor yang mempengaruhi citra ini adalah kepercayaan diri. Artinya, orang tersebut harus mempunyai kepercayaan diri yang tinggi ketika mengenakan pakaian beserta aksesorisnya.

“Biasanya, awal-awal ada diskusi dulu. Aku (ke klien) nanya maunya gimana? Selama ini apa kendalanya? Terus aku kasih tahu, gimana kalo aku bikin seperti ini? Pede nggak kira-kira?” jelasnya. Fashion stylist harus mendapat persetujuan dari klien tentang pakaian yang dikenakannya. Yang paling penting, klien harus nyaman dengan busana yang dipilih oleh fashion stylist. Dari berbagai macam pakaian yang ditawarkan oleh klien, pada akhirnya klien akan menemukan pakaian yang paling cocok dengannya.

Cara memulai karier profesi pekerjaan fashion stylist profesional Indonesia dan ruang lingkup pekerjaannya
Vannie Astecat (dua dari kiri) bersama Rossa dan timnya | Foto: Dok. Pribadi

Untuk mendapakan hasil yang memuaskan, fashion stylist harus mampu menangkap apa yang diinginkan oleh klien lewat pembicaraan dua arah. Misalnya, apakah ia ingin terlihat muda, energik, dan asyik di mata orang lain. Mereka umumnya menggunakan jasa fashion stylist sebelum pergi ke acara-acara spesial mulai dari acara pernikahan hingga pertemuan.

Karakter dan Kultur

Setiap individu mempunyai tipe dan kepribadian yang berbeda-beda. Demikian juga dengan kultur di mana individu itu hidup dan berkembang. Dengan mengenali karakter dan kultur yang beragam, maka fashion stylist dapat menemukan styling yang paling tepat bagi kliennya.

Salah satu contohnya adalah ketika fashion stylist terlibat dalam film biopik yang mengangkat era tertentu. Fashion stylist harus mempelajari mulai dari sejarah hingga kultur yang berkembang di era tersebut. Selain itu, fashion stylist juga harus bisa memprediksi persepsi maupun ekspektasi audiens kepada klien. Bagaimana persepsi orang di suatu daerah tentang penampilan yang keren misalnya. Beberapa daerah menjunjung tinggi kesopanan dengan tidak mengizinkan masyarakat untuk berpakaian terbuka. Fashion stylst harus berpikir hingga ke arah itu dan mampu menyesuaikan dengan kultur setempat.

Tanggung Jawab

Demi kelancaran pekerjaan, fashion stylist menjalin kerja sama dengan pihak lain seperti fashion designer contohnya. Seringkali, fashion stylist akan meminjam koleksi rancangan desainer untuk dipakaikan ke klien. Harga koleksi desainer yang dipinjam fashion stylist bisa saja mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Oleh sebab itu, fashion stylist tak boleh ceroboh memperlakukan koleksi pinjaman tersebut. Dalam proses pekerjaan, setiap pakaian desainer harus selalu dicek kondisinya mulai dari pengambilan ketika di studio milik desainer, saat hari H, saat memasukkan dan mengambil pakaian di laundry hingga mengembalikannya ke desainer. Di sini, Ketelitian menjadi satu hal penting agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Apabila terjadi kerusakan pada pakaian milik desainer, maka fashion stylist ada kemungkinan harus menanggung kerugian. “Bebannya nyesek juga harus aku yang nanggung, ternyata sebenarnya yang salah bukan aku. Tapi aku harus ngganti semua. Deg-degan ya. Kalo harganya Rp50 ribu, mungkin kayak, oh ya udah. Kalo harganya puluhan sampai ratusan (juta rupiah), pusing ya,” ungkap lulusan Fashion Business LaSalle College ini.

Deadline yang Ketat

Fashion stylist harus siap dengan segala kemungkinan yang ada termasuk batas waktu (deadline) pekerjaan yang waktunya mepet sekali. Tak jarang, Vannie mendapatkan job yang sangat mendadak, misalnya hari ini ia dihubungi oleh klien dan esok harinya mesti sudah siap semuanya. Ia menyebutnya sebagai proyek “Roro Jonggrang”.

Namun demikian, Vannie menyanggupi pekerjaan seperti itu karena ia merasa sudah mempunyai jam terbang kerja yang tinggi. Vannie menceritakan, “Banyak juga yang di-calling hari ini, besok harus sudah ada barangnya. Bisa menyanggupi seperti itu karena jam terbang juga. Kalo masih awal-awal, aku nggak akan berani ngambil kerjaan yang besok sudah harus ada.”

Kedisiplinan juga menjadi kunci kesuksesan fashion stylist. Vannie berusaha untuk datang lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Dengan begitu, ia mempunyai waktu lebih untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.

Kerja Sama Tim

Dalam menjalankan pekerjaannya, Vannie tidak sendirian. Ia dibantu oleh sejumlah orang yang tergabung dalam timnya. Tak sebatas menggarap pekerjaan, Vannie ingin memberikan kesempatan bagi para fashion stylist muda untuk mengembangkan bakatnya. “Astecat ini juga menjadi wadah untuk stylist-stylist muda yang berbakat dan bisa aku salurin juga bakatnya itu ke klien-klienku,” ujarnya.

Baca juga:

Seringkali, Vannie mendapatkan beberapa job sekaligus yang berbarengan jadwalnya dan berlainan tempat. Pernah suatu ketika, ia mendapatkan lima pekerjaan dalam satu hari. Dengan adanya tim, Vannie dapat mengatur jadwal dan mendelegasikan pekerjaan kepada para anggota timnya. “Aku sudah pasti stay di siapa dulu yang hire, masukin jadwal duluan. Nanti yang sisanya sudah pasti tim aku,” jelas dia.

Vannie menuturkan, “Aku sekarang menggunakan Astecat ini juga untuk project-project yang mungkin budget-nya di bawah aku. Bisa naruh timku, dia punya karya sendiri juga tapi under Astecat Team. Aku ngasih mereka kerjaan, bisa styling sendiri, tapi tetap aku yang monitor.”

Menjaga Etika

Kunci sukses fashion stylist tak hanya sebatas keterampilan mereka dalam hal styling. Ia juga harus mempunyai etika, kesopanan dan mempunyai sikap rendah hati. Vannie memberikan tips-tips bagi kamu yang ingin menjadi fashion stylist. “Tips aku buat mereka yang kepengin jadi stylist, intinya harus jujur terus etika kerja itu yang paling penting. Karena kita nggak akan bertahan ketika kita tidak menjaga itu semua.”

“Terus nggak boleh terlena glamoritas fashion. Karena fashion kan kesannya glamor, kemudian brand-brand-nya yang mahal. Jangan sampai tergiur sama hal-hal yang itu doang. Tapi ingat bahwa yang harus kita jaga (yakni) relasi kita sama klien. Harus banyak update dengan berita-berita yang ada, bukan sekadar berita fashion yang lagi tren. Tapi juga harus belajar karakter manusia dan culture dari masyarakat,” tutupnya.