Home Beauty Gigi Lebih Putih dan Cemerlang dengan Metode Bleaching

Gigi Lebih Putih dan Cemerlang dengan Metode Bleaching

Metode pemutihan gigi dengan bleaching beserta manfaat dan efek sampingnya
Ilustasi gigi | Foto: cairnsdental.com.au

Highlight.ID – Memiliki gigi yang putih bersih selain dapat memperindah penampilan juga dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Sebaliknya, gigi yang berwarna kekuningan atau kecoklatan merupakan permasalahan yang dapat mengganggu penampilan. Oleh karena itu, orang rela mengeluarkan uang untuk melakukan perawatan di klinik kecantikan atau dokter gigi agar giginya kembali menjadi putih dan sedap dipandang.

Penyebab Gigi Menguning

Pada dasarnya, manusia tidak memiliki gigi yang benar-benar putih bersih namun putih kekuningan. Gigi berwarna kekuningan bisa juga disebabkan oleh faktor genetik. Selain itu, sering minum obat antibiotik dapat menyebabkan gigi berwarna kecoklatan atau abu-abu. Faktor lainnya yakni konsumsi makanan dan minuman yang berwarna serta merokok.



“Kalo permukaan giginya tidak halus, biasanya akan menyerap warna dari bahan makanan tersebut. That’s why, kenapa dibutuhkan setahun dua kali ke dokter gigi untuk membersihkan gigi. Jadi, kadang-kadang sikat gigi itu enggak cukup. Karena tidak semua bagian gigi terjangkau dengan sikat gigi. Cuman dengan alat di dokter gigi yang bisa terjangkau,” papar drg. Nena Febrina, Dokter Gigi Beauteeth Dental Clinic, kepada Highlight.ID.

Apa itu Bleaching?

Metode pemutihan gigi yang banyak dilakukan yakni bleaching dengan menggunakan bahan pemutih gigi. Bahan ini mampu menjadikan gigi lebih putih dan cemerlang dari sebelumnya. Berbeda dengan veneer, gigi putih hasil perawatan bleaching terlihat lebih natural.

Baca juga:

“Bleaching itu teknik pemutihan dengan cara mengoleskan bahan pemutih gigi terus disinar pake alat beberapa menit, kemudian dibersihin, diulang lagi sampai dicapai hasil putih yang maksimal,” jelas drg. Nena. Setelah melakukan bleaching, pasien biasanya akan merasa ngilu namun dalam hitungan jam rasa ngilu tersebut akan hilang dengan sendirinya.

“Bleaching itu maksimal biasanya 3 atau 4 kali aplikasi. Satu kali aplikasi itu biasanya sekitar 15 sampai 20 menit. Biasanya, bleaching itu putihnya putih natural, ya. Bukan putih (seperti) veneer yang rata semua,” tambahnya. Menurut drg. Nena, bleaching hanya merubah warna gigi dan tidak merubah struktur gigi.

Sedangkan veneer adalah pemutihan gigi yang harus merubah struktur gigi dengan menghilangkan atau mengikir beberapa bagian gigi. “Habis itu (gigi) diaplikasikan dengan bahan veneer, ada yang dari bahan komposit atau porselen. Tapi biasanya, harga veneer itu memang jauh lebih mahal dibandingkan harga bleaching,” papar drg. Nena.

Menurutnya, orang yang cocok untuk mendapatkan perawatan bleaching salah satunya yakni public figure. Selain itu, orang-orang yang sering bertemu dengan orang atau mereka yang tampil di depan kamera juga dapat melakukan bleaching.


Bagi perokok atau orang yang suka minum kopi atau teh sehingga giginya menguning, bleaching dapat menjadi cara untuk memutihkan kembali giginya. “Orang-orang biasa pun kalo merasa butuh (bleaching), enggak jadi masalah. Kaya ibu rumah tangga pengen tetap cantik di rumah,” imbuhnya.

Hasil Bleaching

drg. Nena menjelaskan bahwa hasil bleaching dapat bertahan lama atau tidak tergantung pada pola makan dan minum serta gaya hidup. “Kalo dia suka ngopi, ngeteh, ngerokok, otomatis dia (gigi) cepet turun lagi warnanya,” tambah dia.

Untuk menjaga agar efek bleaching dapat bertahan lebih lama, maka dibutuhkan perawatan di rumah (home bleaching treatment). Perawatan bleaching di rumah dengan menggunakan semacam gel yang dipakai seminggu sekali agar warna gigi tetap stabil. drg. Nena mengatakan, “Biasanya tergantung request dari pasiennya. Tapi, ada juga klinik yang menyediakan paket home bleaching dan in-office bleaching.”

Apabila dilakukan terlalu sering, maka bleaching dapat merusak enamel atau email gigi. Enamel merupakan bagian terluar gigi yang dapat terlihat oleh mata. drg. Nena menuturkan, “Idealnya maksimal (dalam) setahun, 2 atau 3 kali. Lebih dari itu, saya tidak merekomendasikan karena bleaching itu kaya ngebuka pori-pori gigi. Ketika itu dibuka, untuk menutupnya lagi itu butuh waktu sampai dia menutup dengan sempurna. Kalo terlalu sering terbuka efeknya (gigi) jadi lebih sensitif kaya ngilu.”

Baca juga:

Merawat Gigi

Tak lupa, drg. Nena membagikan tips-tips merawat gigi agar tetap sehat dan terawat. “Untuk merawat gigi, pertama, pasti gosok gigi. Gosok gigi itu yang harus digarisbawahi adalah kadang orang nggak tahu kapan waktu yang tepat untuk menyikat gigi. Karena itu adalah waktu yang sebenarnya lebih efektif dibandingkan kita harus menyikat gigi setiap jam. Sikat gigi dengan waktu yang tepat dan cara yang baik,” ujar drg. Nena.

Ia menjelaskan bahwa menggosok gigi dilakukan setelah sarapan. “Sarapan dulu, 15 menit setelah sarapan baru sikat gigi, setelah itu mulai beraktivitas. Terus malam sebelum tidur itu wajib untuk menyikat gigi. Dua kali sehari cukup. Terus kemudian ketika dalam waktu satu hari itu, misalnya aktivitas mengunyah (makanan) yang manis, better minum air putih. Karena kadang-kadang sisa makanan yang menempel di bagian gigi cukup sebenarnya dengan air putih kita berkumur untuk melepaskan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi,” tambah dia.

“Kalo mau lebih oke lagi, enam bulan sekali wajib ke dokter gigi untuk check up. Check up itu nggak berarti harus yang tindakan besar. Biasanya, kan cuma scaling untuk membersihkan karang gigi. Karang gigi itu biasanya terbentuk antara 1 sampai 6 bulan. That’s why kenapa di bulan keenam itu wajib ke dokter gigi karena udah kebentuk karang-karang gigi. Itu tidak bisa dibersihkan dengan sikat gigi. Harus dibersihkan dengan alat yang ada di dokter gigi, harus dengan bantuan,” imbuhnya.

“Setelah bersih, dirawat lagi dengan cara menyikat gigi dengan benar.” Memakai sikat gigi yang bulu sikatnya halus dan ukuran yang tidak terlalu besar agar tidak melukai rongga mulut atau gusi. Selain itu, pemakaian pasta gigi juga disesuaikan dengan kebutuhan.